Thursday, July 24, 2014

curriculum vitae



CURRICULUM VITAE

Nama               : Fransiskus X. B Keban, S.IKom
TTL                 : Lamalewo, 05 April 1989
Alamat             : Kelurahan Sarotari RT.013 RW.007    Kecamatan Larantuka
No Hp              : 082359259635
Email               : engkykeban@gmail.com, FB: engq arjun keban, Blog: arjunkeban@blogspot.com
Pendidikan       :
1.      TKK Kemala Bhayangkara (1994-1995)
2.      SDK Lebao Tengah 1(1995-2001)
3.      SMPK St. Gabriel (2001-2004)
4.      SMA Seminari San Dominggo – Hokeng (2004-2008)
5.      Novisiat Sang Sabda (SVD) Kuwu – Manggarai (2008-2009)
6.      Universitas Nusa Cendana – Kupang (2009-2014)
Pengalaman Berorganisasi:
1.      Pembantu Pembina Pramuka Gudep SMPK St. Gabriel
2.      Anggota Osis SMPK St. Gabriel
3.      Ketua Bidang Pers SMA Seminari San Dominggo-Hokeng 2007
4.      Anggota BEM FISIP Undana 2011
5.      Anggota BLM FISIP Undana 2012
6.      PLT Ketua Komisariat LMNasDem FISIP-Undana
7.      Ketua Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) St. Agustinus Fisip 2011/2012
8.      Anggota Pramuka Gudep Undana 2010
9.      Pernah melakukan tugas magang di LP2TRI NTT
10.  Sekarang aktif menulis di media lokal NTT dalam bentuk Puisi dan Esai.

           

surat buat sahabat




20140527_170153.jpgREFLEKSI: SURAT BUAT SAHABAT



           








        



    Hari melangkah dan waktu meniti jalannya dan hidupku pun bersamanya. Sepersekian langkah kaki, terhenti di pojok ini mencoba menengok jejak kaki yang kutinggalkan. Banyak cerita indah dan pahit menghampiri petualanganku, dan menyeretku pada pengakuan bahwa hidup ini memang penuh makna. BBC, KMK, COPPER ’09 dan sejuta pertemanan yang kurajut membantuku sebagai individu melebur jadi kekuatan     yang melangkah mengiringi kaki yang mulai lelah menghadapi sejumput persoalan hidup ini.
            Hidup menawarkan sejuta kisah, menyudutkan apa dan bagaimana jalannya, menyerang pribadi untuk kuat dan kubangga jadi bagian dari persahabatan ini walaupun seringku jatuh dan bergumul dalam lilitan dosa diakhirnya. Tuhan tak menutup mata, kalau malaikat tak bisa kulihat, tak bisa dideskripsikan secara pasti maka aku hanya tahu bahwa malaikatku adalah mereka (baca: sahabatku) yang menemaniku melangkah sejauh ini. Kutahu terima kasih tak berarti selesai, bukan panasea, bukan juga sekedar pamitan karena sahabat tak mengenal akhir, tak mengenal kata berhenti. Dia selalu ada walaupun jiwa rapuh ini tak lagi bersama tubuh kerdil ini. Dan aku tetap ada untuk kalian sahabatku.

                                                           
                                                                                                            Fransiskus X. B Keban

Hidup adalah Kamu



Hidup adalah Kamu

Lipatan kertas kehidupan penuh kerutan,
berbadu bak percikan air di cadas,
menyisahkan tanya apakah masih baik adanya?
            Kerutan atas lipatan ini bermegah dalam rindu,
            menyeret pengharpan pada pengakuan, dan menghempaskannya nmenuju inginku.
            Cukupkah?
Kekalutan hati,
melepaskan angan,
berdiri atas mimpi dan menyuarakan sedikit kecewa.
Lantas buatku termangu dalam bingung inikah hidup?
            Kaki malas melangkah, walau uratnya mampu
            tangan malas terkatup, walau sendi masih punya kekuatan
            dan semua tetap indah karena hidup adalah kamu.

                                                                                    Fransiskus X. B Keban

Saturday, July 19, 2014

Surat Untuk Pemimpin



SURAT UNTUK PEMIMPIN

Detik kemenangan menanti,
 berpeluh keringat di ujungnya mengawal suara rakyat katanya.
Sorot mata tertuju, dan hati pun turut menanti
pemimpin Indonesia 5 tahun ke depan katanya.
            Bak gayung bersambut, surat pun melayang
            menanti jawaban atas serpihan kata-kata rakyatmu ini.
Pemimpinku...
Kutitipkan Negeri carut –marut padamu, bukan sekedar untuk dibuat berwarna kelabu
dan diiringi tangis, bukan juga dipolesi dengan kebohongan karena kami bosan dibohongi.
Negeri pesakitan ini, semakin sakit jika tanganmu salah mendiagnosa sakitnya dan berujung salah
memberi obat.
10 jarimu, kami percaya...
Warna Negeri ini semakin berwarna jika kalian mengakui perbedaan yang menguatkan kita, karena
Bhineka Tunggal Ika jadi pedoman.
Koruptor jangan diberi ampun, penjahat akan terus menjadi penjahat jika kesempatan tak lagi
dimaknai sebagai pertobatan.
Negeri ini di titik nadir, elit bermain dan rakyat meringis kesakitan.
            Pemimpinku...
            Negeri ini bukan barat, bukan juga timur namun negeri tanpa batas
jemarimu selalu jadi pembeda.
5 tahun bukan waktu lama, bergegas secepat mungkin sebelum langkah mundur
menghampiri.
Kami bosan menunggu, menunggu dikibuli, dan diajak untuk mundur.
Kaki dan tangan ini senantiasa bersama, dan hati ini selalu mendukungmu melangkah
menggapai Indonesia Baru yang lebih baik. Kami selalu penuh harap.
                                                                                    Fransiskus X. B Keban

Tuesday, July 15, 2014

kita memilih

KITA MEMILIH



Negeri berpeluh keringat, berdiri dipersimpangan menanti sentuhan
dan kita menatap ingin melangkah namun menjadi sia-sia.
Semua tak lagi sama, pemimpin murka dan rakyat tertidur.
mirisnya angan berkutat dalam mimpi
Negeri apakah ini? Atau malu menjadi orang Indonesia?

            Kini semua berlomba bak kuda pacu, berkoar tak mau kalah
            Habis itu, membuat janji namun berhenti menempati dan tanya pun menghampiri.
Bukan siapa tapi apa, apa yang nyata diantara yang abstrak,
dan apa yang layak diantara apa yang seharusnya ada,
kitalah yang memilih.

Di seberang negeri,  di pelataran duka berdiri kelompok tersisih
mengais hidup dengan semua kekurangan yang dimiliki,
mengeluh dengan mentari, mencoba mengempas nasib dengan waktu.
Dan Tuhan menjadi saksi di antara peluh, sementara mereka menutup mata,
membiarkan semua larut dalam kemiskinan,dan kita memilih.

            Langit belum memberi jawaban, gundah pun tak lapuk dan semua menagih janji
            Pilihan tetap pilihan namun menentukan, dan kita yang memilih.
            Indonesia menanti, apakah tetap menangis ataukah gembira menghampiri?

                                                                                                Fransiskus X. B Keban


Thursday, February 27, 2014

INGIN






 MENANTIMU ADALAH INGINKU



Tak ada badai, angin pun jadi. Itulah gambaran kehidupan kita sebagai keluarga di wadah ini, mencoba mengakali semua dengan slogan baik-baik saja. Namun demikian luka pun akan terasa perih oleh waktu, dan terjawab dengan realita bahwa kita sedang terserang nan akut yakni eksistensi. Miris bukan?
                  Dan penulis pun mengangkat tulisan singkat nan tak berarti ini (jika nalar kita tak lagi berbanding lurus dengan hati)  ke permukaan sekedar mengetok hati kita semua sembari bertanya sudahkah eksistensi diri kita membawa perubahan di wadah yang kemudian penulis sebut sebagai Ibunda?
Waktu mengiyakan kalau pertemuan adalah awalnya, dan kemudian waktu pulalah yang mengajarkan kita tuk bersama namun waktu pulalah yang kemudian mengambil separuh diri kalian dari diriku. Iya...sang waktu telah membiarkan lukisan kebersamaan kita terpatri di sini, dengan semua cerita gembira dan tangis ini. Makan sepiring nasi setengah masak berpadu dengan air panas yang di isi setengah gelas, dan digarami sepersekian guratan jari membuat kita semua seolah terjun bebas tanpa melihat sekat perbedaan di antara kita, tak ada lagi batas wilayah administrasi, tak ada lagi perbedaan suku, semuanya seolah menjadi tembok tangguh yang melindungi setiap mereka yang berada dalam naungannya. Kisah ini pun bak oase yang menyegarkan para musafir di padang pasir, membuat kita semua menjadi yakin dengan sumpah yang telah kita ikrarkan bersama namun sekali lagi waktu telah membuat kita tak bergeming, dan tak berdaya. Semua menjadi hilang dalam sekejap, satu per satu menjadi nyaman di luar sana meninggalkan Ibunda tertunduk lesu, tangisan Lewotanah membuncah melihat kita tak lagi sama dan kita pun kemudian dilabeli “Pencuri” di akhir.
Hmhm….tengorokanku tak mampu menelan, menelan kesempurnaan yang disemukan, berjalan di atas onak duri hidup ber
sama lantas terpental. Militansi kita tak menjadi utuh dan motivasi hilang serupa bintang yang muncul di saat cerah dan menghilang lagi di saat hujan. Dan tulisan ini pun sekedar keluhan hati seorang manusia yang berdiri tanpa kesempurnaan, yang punya cacat diri namun mencoba bangkit dan bukan juga sedang menggurui pembaca hanya mencoba mengingatkan hati kecilmu bahwa kita tak akan sempurna tanpa orang dan kini tinggal Ibunda menapaki hari dengan kerinduan akan kita. Dan kembali waktu ini pun selalu menjadi momok buat kita tuk mnjawabi pertanyaan akan eksistensi diri kita akan militansi yang diikrarkan itu. Tak ada gunanya kita lari, bersembunyi di balik hiruk pikuk kehidupan ini karena semakin kita berlari, kita tetap menjadi bagian dari keluarga ini. Kami tak pernah berpikir untuk melupakanmu, kami seperti Ibunda menjadi rindu bersama, bercengrama mematahkan malam yang penuh tanya, dan berjuang dikeesokan harinya untuk Lewotanah Solor. Dan masihkah kita untuk kembali di rumah ini???




Wednesday, January 15, 2014

Untukmu Aku Ada

Untukmu Aku Ada


Senja tak lagi kekal meninggalkan kisah dibalik rindu ini,
merenggut separuh nafasku untuk bersama,
dan semua menyisahkan luka namun tak sepenuhnnya murni.
Berdiriku sepoyongan menatap nur mencermati kalut tapi smua mnjadi sepi,
menyerobot nurani ini,membiasakan mulutku tuk katakan kau yang terindah.

membiarkan hati menatap langit cintamu,
merengguhnya kemudian menjadi indah tuk kunikmati
lantas semua kuanggap rahmat,menjagamu adalah keharusan yang tak terelakkan
membuat serpihan diri menjadi lebih sempurna karena dirimu
untukmu maka aku ada.

 3ngky Keban (Medio Januari)
 
 

Tuesday, January 14, 2014

Kisahku bersama BBC

Kisahku

senja temaram singgah dipuluk mata,
menyerobot nelangsa sepi ini,
menyeruak dalam sum-sum tulangku lantas semua menjadi sepi dan tak bermakna.
Malam pun menggugah nurani,
menyeretku pada realita pelik yang tak bisa ku elak
aku masih butuh sentuhan kasih,cinta walau sebentar bukan sekedar datag dan pergi namu tuk selamanya.
iya...sahabatku,kumerindukanmu mencoba membolak-balikkan sejumput buku usang ini coba mengenang kisah kita bersama,yang berdiri kokoh dipalung hati dan semua jadi indah di sini dan nanti.

biarkan cerita ini,kembali bergulir seiring waktu,tenggelam bersama pekat malam dan terbit lagi di saat matahari kembali terbit,dan cintaku tetap bersamamu.




Larinya HRS, Bukti Kalau Dia Manusia

    Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan berita soal Habib Rizieq Shihab. Bukan soal pelanggaran protokol kesehatan saat tiba ...