![]() | |
| ilustrasi: Anak-anak sedang melepas lelah setelah bersepeda. |
Blogku adalah kumpulan tulisan kecilku yang kuambil dan kuramu menjadi sebuah lukisan hidup yang bergerak dari pengalaman harianku
Tuesday, July 21, 2015
Bersepeda Di Jalanan, Fenomena Baru di Tanahku
Monday, July 20, 2015
NEGERI PARA KAMBING
![]() | ||
| Potret Negeriku...Masihkah berharap? |
Monday, May 11, 2015
PESONA WISATA DESA LEWOBELE, PAKET MURAH DAN MENGGIURKAN

Flores Timur dikenal dengan surganya wisata, sejuta alam yang tak tersentuh tangan-tangan manusia, menjadikan Flores Timur sebagai sebuah destinasi wisata yang elok untuk dinikmati. Namun demikian, bukanlah sebuah keharusan saya sebagai penulis membongkar semua objek wisata yang sudah tertulis rapi di akhlak pembaca, ataupun sekedar bercerita mengulang langkah kaki pembaca yang sudah terlebih dahulu menginjakkan kaki di sekian banyak objek wisata di Flotim. Alih-alih mengulang, dan menjadi sebuah kebasian yang sangat, saya pun mencoba menguak tabir baru objek wisata air terjun Wai Nuwu dan sunset di desa Lewobele-Kecamatan Lewolema sebagai sebuah pemaknaan akan indahnya alam buatan Tangan Sang Khalik dan berharap jika suatu hari kelak, pembaca yang membaca tulisan ini rela hati, meringankan kaki untuk hadir di sana, menikmati apa yang saya nikmati.
Dan pagi itu Sabtu (09/05) bersama teman-teman Komunitas Wisata Menulis Flotim (kumpulan para jornalis, penulis dan Facebooker) mencoba menguak misteri desa Lewobele. Desa Lewobele, sebuah desa kecil di kecamatan Lewolema, terletak di bagian pantai utara Flotim dan berjarak kurang lebih 24 kilometer dari arah barat kota Larantuka, atau sekitar 6 kilometer dari Kawaliwu pusat Ibukota Kecamatan Lewolema. Desa yang berbatasan dengan desa Lewokluok di sebelah baratnya, dan desa Leworahang di sebelah timur ini bisa dilewati dengan kendaraan roda dua maupun roda empat melewati jalanan aspal yang serba seadanya, yang menurut penuturan Kepala Desa Ambrosius Key Muda dibangun sejak masa Bupati Hengky Mukin. Namun demikian, semua kekurangan itu tidak lantas membuat kelebihan desa itu tertutupi. Berawal dari cerita yang berembus, dan dari penuturan masa lalu Nenek Moyang kepada sebagian kecil warga di desa tersebut kami menjajaki juga bukit kecil ke puncak gunung Aho Boang (Anjing Melolong) yang menurut penemu Martinus Lawe Koten terdapat tiga sumber air terjun, dimana air terjun yang pertama dan ketiga dapat dijangkau oleh kaki manusia sedangkan air terjun yang kedua hingga kini agak sulit untuk dijangkau oleh karena kondisi hutan yang masih alami pasca gempa 1992. Dirinya mengakui, penemuannya akan sebuah aset wisata terelok di tanah ibu pertiwi ini adalah sebuah ketidaksengajaan semata yang berawal dari kegemarannya berburu. “Awalnya saya berburu, dari puncak gunung Aho Boang saya mendengar bunyi air dan ketika saya dekati rupanya air terjun,” katanya.
Rasa penasaranpun mendorong kami melanjutkan perjalanan menuju air terjun pertama yang berjarak hampir 5 KM dari kampung Lewobele, yang sebelumnya terhenti di sebuah pondok kecil milik warga sekedar, bercekrama bersama sekedar mengupas informasi bersama para informan yang sedikit demi sedikit memenuhi catatan perjalananku hari ini. Selain itu perhentian pertama ini juga menjadi pelepas lelah otot kaki yang sudah mulai terasa berat melangkah, maklum pendakian pertama melewati bukit pemuas hasrat keinginantahuan harus melewati bulir-bulir keringat kelelahan ditambah lagi dengan kaki yang belum cukup lihai melewati onggokan batu-batu di bukit itu. Bersama dua pemandu lainnya Valentinus Bae dan Simon Mukin, perjalananpun sedikit lebih ringan walaupun harus melewati hutan yang jarang sekali tersentuh dan terjamah oleh tangan-tangan manusia. Diujung bukit, nuansa kecapaian terhenti seketika, saat sang penemu berbisik menenangkan suara yang berbincang ria, dan riuh rendah bunyi aliran air terdengar samar-samar dari kejauhan mematik semangat setiap pribadi untuk cepat sampai di tujuan, memuaskan hasrat petualangan saat itu. tidak ada lagi yang tertinggal, setiap kaki ini terasa cepat melangkah, dan jatuh adalah cerita lain yang boleh kami peroleh. Intinya, Air Terjun pertama sudah semakin dekat, mungkin begitulah pikir Maksimus Masan Kian, salah satu penulis aktif di Media Cetak dan Elektronik. Di tepian aliran air itu, kaki kami belum juga berhenti dan artinya, perjalanan pun belum usai. Masih sekian kilo lagi harus kami lewati, dan kesempatan inilah jadi ruang bagi beberapa anggota Komunitas untuk berfoto ria, mencoba memotret apa yang menurut mereka indah. Mulai dari batu-batuan, air yang mengalir hingga pada gua tempat burung walet membuat sangkarnya. Dan kunikmati karya agung Tuhan yang terbersit indah lewat aliran air di tanah Nenek Moyangku, dan membuat kami orang Flotim bangga mempunyai sebagian yang tidak dimiliki kebanyakan orang. Perhentian kedua, tidak terelakkan di kubangan kecil berbentuk persegi empat, yang menurut para pemandu tempat mereka mengumpan air mengairi pipa menuju kebun mereka. Masih menurut mereka,dulu sempat ada yayasan yang sempat survey namun urung dikembangkan, sehingga mereka pun membuatnya dengan seadanya saja seperti sekarang. Merasa cukup, atas informasinya kami pun meneruskan perjalanan memecah kesunyian hutan yang dipenuhi dengan bunyi alliran air itu, hingga pada titik tertentu teriakan salah satu anggota Komunitas membuat kami yang berjalan di belakang bersorak gembira dan mendorong naluri kemanusian kami untuk lebih cepat berjalan. Iya.. kerinduan kita akan kenikmatan dan keindahan Air Terjun Wai Nuwu tercapai. Kami telah tiba, dan sungguh elok pemandangannya walaupun hanya sekitar 75 Meter tingginya dan tidak sebanding dengan air terjun yang ketiga di puncak gunung Aho Boang yang menurut penuturan sang penemu lebih tinggi dari yang pertama, tapi kami telah berhasil bercumbu melepaskan kerinduan akan penemuan bersejarah dalam hidup kami masing-masing lewat air terjun ini. Tanpa menunggu lama, dan tanpa diperintah semua anggota komunitas pun larut dalam kegembiraan, bermandi ria dengan teriakan kecil tanda syukur sembari terus berpose mengabadikan momen terindah ini. Di ujung sana, ketiga pemandu terlihat ikut gembira dengan tawa mereka yang terpancar dari wajah-wajah penuh harap jika kelak ada orang lain bisa kembali hadir bersama mereka di sini menikmati sisi lain keindahan desa yang terpancar dari derasnya air terjuan Wai Nuwu. Merasa puas akan suguhan hangatnya air yang dipadukan dengan indahnya bebatuan di sekitaran air terjun, kami kembali berbincang-bincang sembari menikmati suguhan ubi rebus yang direbus secara tradisional yakni dengan menggunakan air tuak manis, nikmat dan gurih begitulah rasanya. Hingga suara sang pemandu kembali pecah di tengah kesibukkan gigi menguyah ubi, di tengah helahan sebatang rokok teman perjalanan siang itu, “Jika kalian pulang kami akan selalu berdoa, semoga kalian selalu sukses dan jangan lupa sekembalinya dari tempat ini kalian juga bisa menikmati matahari terbenam dari desa ini dan jika sempat mampir sebentar di tempat air panas di tepian pantai di desa ini,” kata Martinus.
Wow...Rupanya paket wisata kami belum berakhir di air terjun ini masih ada yang harus kami selesaikan dalam sehari, yang murah dan menggiurkan dan yang hanya membutuhkan seberapa kuat kaki ini melangkah pergi. Sekitar pukul 14.00 wita, kami mulai beranjak pergi meninggalkan goresan cerita kami di air terjun itu, walaupun tidak sempat menginjakkan kaki di puncak gunung dan merasakan air terjun yang ketiga namun tetaplah indah perjalanan kami. Langkah kaki para petualang semakin cepat, mungkin tidak sabar menikmati paket lain keindahan yang tersaji di Desa Lewobele, hingga akhirnya kami pun tiba di jantung desa tempat awal kami menginjakkan kaki sembari menunggu sang fajar menyingsing mengalahkan siang, mengundang malam ditemani sang bulan. Dan di ujung sana, matahari mulai perlahan turun ke peraduannya meninggalkan langit ditemani awan hitam, di pusarannya dikelilingi cahaya kemerah-merahan bercampur kuning membentuk bola membiaskan pesona indahnya dan dipadukan dengan nelayan yang ingin menambatkan perahunya menambah cerita indah ini terasa seperti mimpi. Hingga mentari tak menunjukkan kuasa atas siang, kami masih terus berada di tepian bebatuan memuji, dan mensyukuri apa yang telah kami rasakan walaupun ada paket wisata yang terlupakan tapi kami tahu bahwa desa Lewobele memang layak untuk menyandang potensi sebagai desa wisata Flotim yang komplet.
Kiranya, tulisan singkat penuh cerita ini bukan sekedar menjadi sebuah konsumsi pribadi di mata pembaca, tapi harus juga diceritakan kepada mereka yang lain. Bahwa, saya hanyalah sosok manusia yang menuliskan cerita ini untuk dinikmati, namun jika kita masih punya kepedulian, tidak ada salahnya menuturkan dan melangkahkan sejenak kaki anda di Desa Lewobele sekedar membuktikan apa yang saya ceritakan ataupun mengupas apa yang belum sanggup kukupas secara baik, sehingga kelak saya, anda, mereka dan bahkan dunia tahu Negeri kita menyimpan sejarah keindahan alam penuh pesona.
Biodata penulis: Tinggal di Larantuka Email : engkykeban@gmail.com Blog : arjunkeban.blogspot.com No Hp: 082359259635
PESONA WISATA DESA LEWOBELE, PAKET MURAH DAN MENGGIURKAN
Flores Timur dikenal dengan surganya wisata, sejuta alam yang tak tersentuh tangan-tangan manusia, menjadikan Flores Timur sebagai sebuah destinasi wisata yang elok untuk dinikmati. Namun demikian, bukanlah sebuah keharusan saya sebagai penulis membongkar semua objek wisata yang sudah tertulis rapi di akhlak pembaca, ataupun sekedar bercerita mengulang langkah kaki pembaca yang sudah terlebih dahulu menginjakkan kaki di sekian banyak objek wisata di Flotim. Alih-alih mengulang, dan menjadi sebuah kebasian yang sangat, saya pun mencoba menguak tabir baru objek wisata air terjun Wai Nuhu dan sunset di desa Lewobele-Kecamatan Lewolema sebagai sebuah pemaknaan akan indahnya alam buatan Tangan Sang Khalik dan berharap jika suatu hari kelak, pembaca yang membaca tulisan ini rela hati, meringankan kaki untuk hadir di sana, menikmati apa yang saya nikmati.
Dan pagi itu Sabtu (09/05) bersama teman-teman Komunitas Wisata Menulis Flotim (kumpulan para jornalis, penulis dan Facebooker) mencoba menguak misteri desa Lewobele. Desa Lewobele, sebuah desa kecil di kecamatan Lewolema, terletak di bagian pantai utara Flotim dan berjarak kurang lebih 24 kilometer dari arah barat kota Larantuka, atau sekitar 6 kilometer dari Kawaliwu pusat Ibukota Kecamatan Lewolema. Desa yang berbatasan dengan desa Lewokluok di sebelah baratnya, dan desa Leworahang di sebelah timur ini bisa dilewati dengan kendaraan roda dua maupun roda empat melewati jalanan aspal yang serba seadanya, yang menurut penuturan Kepala Desa Ambrosius Key Muda dibangun sejak masa Bupati Hengky Mukin. Namun demikian, semua kekurangan itu tidak lantas membuat kelebihan desa itu tertutupi. Berawal dari cerita yang berembus, dan dari penuturan masa lalu Nenek Moyang kepada sebagian kecil warga di desa tersebut kami menjajaki juga bukit kecil ke puncak gunung Aho Boang (Anjing Melolong) yang menurut penemu Martinus Lawe Koten terdapat tiga sumber air terjun, dimana air terjun yang pertama dan ketiga dapat dijangkau oleh kaki manusia sedangkan air terjun yang kedua hingga kini agak sulit untuk dijangkau oleh karena kondisi hutan yang masih alami pasca gempa 1992. Dirinya mengakui, penemuannya akan sebuah aset wisata terelok di tanah ibu pertiwi ini adalah sebuah ketidaksengajaan semata yang berawal dari kegemarannya berburu. “Awalnya saya berburu, dari puncak gunung Aho Boang saya mendengar bunyi air dan ketika saya dekati rupanya air terjun,” katanya
Rasa penasaranpun mendorong kami melanjutkan perjalanan menuju air terjun pertama yang berjarak hampir 5 KM dari kampung Lewobele, yang sebelumnya terhenti di sebuah pondok kecil milik warga sekedar, bercekrama bersama sekedar mengupas informasi bersama para informan yang sedikit demi sedikit memenuhi catatan perjalananku hari ini. Selain itu perhentian pertama ini juga menjadi pelepas lelah otot kaki yang sudah mulai terasa berat melangkah maklum pendakian pertama melewati bukit pemuas hasrat keinginantahuan harus melewati bulir-bulir keringat kelelahan ditambah lagi dengan kaki yang belum cukup lihai melewati onggokan batu-batu di bukit itu. Bersama dua pemandu lainnya Valentinus Bae dan Simon Mukin, perjalananpun sedikit lebih ringan walaupun harus melewati hutan yang jarang sekali tersentuh dan terjamah oleh tangan-tangan manusia. Diujung bukit, nuansa kecapaian terhenti seketika, saat sang penemu berbisik menenangkan suara yang berbincang ria, dan riuh rendah bunyi aliran air terdengar samar-samar dari kejauhan mematik semangat setiap pribadi untuk cepat sampai di tujuan, memuaskan hasrat petualangan saat itu. tidak ada lagi yang tertinggal, setiap kaki ini terasa cepat melangkah, dan jatuh adalah cerita lain yang boleh kami peroleh. Intinya, Air Terjun pertama sudah semakin dekat, mungkin begitulah pikir Maksimus Masan Kian, salah satu penulis aktif di Media Cetak dan Elektronik. Di tepian aliran air itu, kaki kami belum juga berhenti dan artinya, perjalanan pun belum usai. Masih sekian kilo lagi harus kami lewati, dan kesempatan inilah jadi ruang bagi beberapa anggota Komunitas untuk berfoto ria, mencoba memotret apa yang menurut mereka indah. Mulai dari batu-batuan, air yang mengalir hingga pada gua tempat burung walet membuat sangkarnya. Dan kunikmati karya agung Tuhan yang terbersit indah lewat aliran air di tanah Nenek Moyangku, dan membuat kami orang Flotim bangga mempunyai sebagian yang tidak dimiliki kebanyakan orang. Perhentian kedua, tidak terelakkan di kubangan kecil berbentuk persegi empat, yang menurut para pemandu tempat mereka mengumpan air mengairi pipa menuju kebun mereka. Masih menurut mereka,dulu sempat ada yayasan yang sempat survey namun urung dikembangkan, sehingga mereka pun membuatnya dengan seadanya saja seperti sekarang. Merasa cukup, atas informasinya kami pun meneruskan perjalanan memecah kesunyian hutan yang dipenuhi dengan bunyi alliran air itu, hingga pada titik tertentu teriakan salah satu anggota Komunitas membuat kami yang berjalan di belakang bersorak gembira dan mendorong naluri kemanusian kami untuk lebih cepat berjalan. Iya.. kerinduan kita akan kenikmatan dan keindahan Air Terjun Wai Nuhu tercapai. Kami telah tiba, dan sungguh elok pemandangannya walaupun hanya sekitar 75 Meter tingginya dan tidak sebanding dengan air terjun yang ketiga di puncak gunung Aho Boang yang menurut penuturan sang penemu lebih tinggi dari yang pertama, tapi kami telah berhasil bercumbu melepaskan kerinduan akan penemuan bersejarah dalam hidup kami masing-masing lewat air terjun ini. Tanpa menunggu lama, dan tanpa diperintah semua anggota komunitas pun larut dalam kegembiraan, bermandi ria dengan teriakan kecil tanda syukur sembari terus berpose mengabadikan momen terindah ini. Di ujung sana, ketiga pemandu terlihat ikut gembira dengan tawa mereka yang terpancar dari wajah-wajah penuh harap jika kelak ada orang lain bisa kembali hadir bersama mereka di sini menikmati sisi lain keindahan desa yang terpancar dari derasnya air terjuan Wai Nuhu. Merasa puas akan suguhan hangatnya air yang dipadukan dengan indahnya bebatuan di sekitaran air terjun, kami kembali berbincang-bincang sembari menikmati suguhan ubi rebus yang direbus secara tradisional yakni dengan menggunakan air tuak manis, nikmat dan gurih begitulah rasanya. Hingga suara sang pemandu kembali pecah di tengah kesibukkan gigi menguyah ubi, di tengah helahan sebatang rokok teman perjalanan siang itu, “Jika kalian pulang kami akan selalu berdoa, semoga kalian selalu sukses dan jangan lupa sekembalinya dari tempat ini kalian juga bisa menikmati matahari terbenam dari desa ini dan jika sempat mampir sebentar di tempat air panas di tepian pantai di desa ini,” kata Martinus.
Wow...Rupanya paket wisata kami belum berakhir di air terjun ini masih ada yang harus kami selesaikan dalam sehari, yang murah dan menggiurkan dan yang hanya membutuhkan seberapa kuat kaki ini melangkah pergi. Sekitar pukul 14.00 wita, kami mulai beranjak pergi meninggalkan goresan cerita kami di air terjun itu, walaupun tidak sempat menginjakkan kaki di puncak gunung dan merasakan air terjun yang ketiga namun tetaplah indah perjalanan kami. Langkah kaki para petualang semakin cepat, mungkin tidak sabar menikmati paket lain keindahan yang tersaji di Desa Lewobele, hingga akhirnya kami pun tiba di jantung desa tempat awal kami menginjakkan kaki sembari menunggu sang fajar menyingsing mengalahkan siang, mengundang malam ditemani sang bulan. Dan di ujung sana, matahari mulai perlahan turun ke peraduannya meninggalkan langit ditemani awan hitam, di pusarannya dikelilingi cahaya kemerah-merahan bercampur kuning membentuk bola membiaskan pesona indahnya dan dipadukan dengan nelayan yang ingin menambatkan perahunya menambah cerita indah ini terasa seperti mimpi. Hingga mentari tak menunjukkan kuasa atas siang, kami masih terus berada di tepian bebatuan memuji, dan mensyukuri apa yang telah kami rasakan walaupun ada paket wisata yang terlupakan tapi kami tahu bahwa desa Lewobele memang layak untuk menyandang potensi sebagai desa wisata Flotim yang komplet.
Kiranya, tulisan singkat penuh cerita ini bukan sekedar menjadi sebuah konsumsi pribadi di mata pembaca, tapi harus juga diceritakan kepada mereka yang lain. Bahwa, saya hanyalah sosok manusia yang menuliskan cerita ini untuk dinikmati, namun jika kita masih punya kepedulian, tidak ada salahnya menuturkan dan melangkahkan sejenak kaki anda di Desa Lewobele sekedar membuktikan apa yang saya ceritakan ataupun mengupas apa yang belum sanggup kukupas secara baik, sehingga kelak saya, anda, mereka dan bahkan dunia tahu Negeri kita menyimpan sejarah keindahan alam penuh pesona.
Tuesday, March 10, 2015
Pengemis dan Negeri Sakit
Jemari mengatup, akhlakpun berpikir, dan mulut mengukir kata. mengais remah2 hidup yang semakin jauh. Dan pengemis itupun masih terus menatap langit, mencoba menyuarakan suara pilu di himpitan keangkaran Negeri. Mencekik, dan jatuh hingga nurani pun takk berarti lagi. Kaisan tangannya pun menggulingkan rasa pedih duka mendalam, memungut serpihan "janji" kaum elit,yang lupa ketika berlari. Remah itupun semakin terasa berat tuk dipungut, pengemis pun menangis, dan mereka belum menyadari.
< align=”center”>Negeri masih berkutat dalam mimpi, karena remah ini masih tersisa di sudut kota. Berbicara dengan mulut membusa, namun niat tak selaras dan penngemis memberi bukti. Negeri sakit, dan terus sakit dan remah akan terus berkutat mengintari hidup dan pengemis tetapjadi pengemis walaupun mimpinya tidak berkesudahan. Di sudut kota lain, mereka yang lupa berhilir menyoraki gembira, menuangkan anggur "janji" kemudian membuangnya di lantai Negeri. Membungkam roti di mulut busuk ,walaupun terasa nikmat. dan suara tangisan itu, ah...hanya sebagian dari duka Negeri ini, mereka tetap lupa kalau mereka juga pernah memnta dari pengemis.Frengky Keban, tinggal di Larantuka
Wednesday, March 4, 2015
Pilkada Flotim Dalam Dunia Maya
MENEROPONG PERAN FACEBOOK SEBAGAI MEDIA SOSIAL KOMUNIKASI MENJELANG PILKADA FLOTIM
(oleh: Frengky Keban*)
*Pemerhati Sosial Komunikasi, Tinggal di Larantuka.
Gema Pilkada siap ditabu dan tak jarang membuat orang-orang (baca: Masyarakat) mulai beramai-ramai menerka, memprediksi, malah ada yang secara gamblang menentukan figur-figur calon Bupati pilihan mereka baik di social media maupun dalam setiap percakapan ringan mereka di kantor, rumah ataupun tempat lain yang dirasa baik untuk bertukar pikiran. Grup Facebook sebagai salah satu media social kembali menjadi media paling banyak dijadikan wadah untuk menginformasikan, atau sekedar melihat tanggapan masyarakat (Komunikan) dan mulai menerka kekuatan figur-figur dengan aneka komentar yang ada. Aneka syarat pun tak ayal menyertai setiap komentar para penguna media Facebook sebagai pemanis percakapan dan menjadi sorotan public dalam mengkaji figure pilihan rakyat yang semakin membuat semarak grup tersebut. Namun demikian, penulis mencoba melihat realita pilkada Flotim dalam perspektif social komunikatif dengan harapan tulisan ini menjadi sebuah awasan pembaca untuk tidak salah memilih dan dapat menjadikan pilihan dalam pilkada sebagai sebuah tanggung jawab dengan melihat realita politik di ruang public facebook .
Berdasarkan tulisan Wentho Eliando (Wartawan Flores Pos Larantuka) tertanggal 27 Februari 2015, perihal Tahun Politik Kabupaten Flotim yang dimulai pada Tahun 2015 dan diperkuat dengan pernyataan Ketua KPU NTT John Depa maka sudah barang tentu Pilkada Flotim akan diadakan pada tahun 2017 bersama 2 kabupaten lain yakni Kabupaten Lembata dan Kabupaten Sabu, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPU) Nomor 1 tahun 2014. Dengan demikian, sekali lagi tidaklah prematur ketika kita sama-sama berbicara perihal pilkada Flotim yang berdasarkan catatan saya memiliki penduduk sekitar 300 ribu lebih yang tentunya akan menciptakan banyak cerita dalam hidup bermasyarakat (Zoon Politicon) apalagi ketika menyandingkannya dengan facebook sebagai media jejaring sosial.
Facebook Sebagai Media Membangun Opini Publik dan Media Menjual Figur Facebook tentunya bukanlah media baru, yang singgah sebentar atau numpang tenar, namun menjadi sebuah media social yang amat digandrugi sekian banyak masyarakat dari berbagai elemen mulai dari muda hingga tua, dari yang buta media hingga yang doyan media. Bayangkan saja, Facebook yang diluncurkan 4 Februari 2004 lalu oleh Mark Zuckerberg bersama 4 temannya mampu menarik simpati penggunanya yang hingga tahun 2012 mencapai 1 miliar lebih dengan menggunakan 70 bahasa di dunia dan memperoleh pendapatan $ 3,71 Miliar (2011). Facebook yang diawal pembentukannya hanya diperentukkan untuk kalangan sendiri dan sekedar mencari teman, kini bertransformasi menjadi media pemberi informasi dan malah berhasil menjadi media pembentuk opini public terhadap realita hidup masyarakat termasuk realita politik yang terjadi di dunia termasuk di Indonesia dan juga di Flores Timur. Opini Publik seyogianya adalah pendapat kelompok masyarakat, yang dibangun berdasar atas sebuah realita yang terjadi. Namun demikian, Opini public juga, hemat saya tidak luput dari kebebasan untuk mengeluarkan ide, kritik, keluhan, keinginan yang bagi kita (Baca: Masyarakat) guna menjawabi sebuah persoalan yang tengah dihadapi. Iya…Dengan kebebasan itu pulalah, kita pun terjebak dalam sebuah stigma kebebasan yang semu yang sifatnya merusak padahal secara teorikal media massa Indonesia menganut asas kebebasan yang bertanggung jawab. Opini public pun kian menjadi-jadi saat menyongsong hajatan pilkada Flotim yang kemudian menyeret orang untuk beramai-ramai bersuara yang terkadang dirasa kurang memuaskan. Mengapa?
1. Dunia Maya Vs Pengguna gelap
Tidak banyak pengguna facebook (Komunikator) yang benar-benar menyadari bahwa kedirian mereka di media yang dijual. Dengan kata lain, diri kitalah yang sebenarnya sedang dinilai, sehingga bermunculan semacam wabah untuk menghilangkan identitas diri yang sebenarnya dan menggantikannya dengan diri orang lain (pengguna gelap). Dan Politik sebagai pesan menjadi makanan pengguna gelap tersebut untuk melancarkan serangan fajar, menjatuhkan individu-individu yang sedang atau akan mencalonkan dirinya. Hal ini banyak terjadi di ruang grup facebook tanpa pertanggungjawaban berarti dan terkesan menuangkan kegelisahan, dan ketidakpuasan diri terhadap figure-figur tertentu. Maka hemat saya, berkaca pada disiplin ilmu komunikasi, pengguna gelap/komunikator sedang berupaya melakukan black campaigne dengan menggelontorkan sekian banyak pesan bernada negatif, sekedar mendorong para pembaca mengubah persepsi dan menjatuhkan pilihan kepada figure lain yang menjadi efek dari komunikasi yang dibangun . Atau dengan kata lain, serangan atas diri orang lain adalah sebuah kepentingan pengguna gelap secara pribadi yang disesuaikan dengan idea tau maksudnyayang digambarkan dalam kata-kata (encoding).
2. Grup Facebook menyangkal diskusi cerdas
Grup facebook sebagai media cerdas kehilangan pesona saat orang-perorangan mulai menggulirkan cerita untuk mulai berdiskusi. Pengguna cerdas pun mulai memutarbalikkan fakta yang tidak seharusnya dengan alibi mengunduhnya di situs terpercaya. Dan cerita itu pun, kian membabi buta dengan penyerangan kelompok pro atas kelompok kontra dan sebaliknya, dan malah menggunakan pesan-pesan dengan kata-kata kasar,ataupun kata caci maki yang tidak elok untuk dinikmati. Padahal dalam diskusi, sudah seharusnya memperhatikan etika komunikasi efektif yang mana pesan dari komunikator dapat diinterpretasi secara baik dan benar oleh pembaca/komunikan sehingga mengurangi salah tafsir atas makna yang ada dan pesan tersebut mampu memanusiakan manusia bukan hanya sekedar menjual ide cemerlang yang dilatarbelakangi pendidikan masing-masing pengguna.
3. Media menjual figure tanpa solusi
Alangkah elok dan patut disyukuri pula, bahwa media facebook dapat pula kita gunakan sebagai media bisnis dengan menjual produk-produk kebutuhan hidup manusia, salah satunya adalah produk figure politik menjelang pilkada nanti. Banyak figure mapan bermunculan namanya baik itu yang dipromosikan ataupun yang berani menyatakan diri siap di hadapan public. Produk-produk itupun tak luput dari perhatian, banyak efek yang ditimbulkan akibat kemunculan nama produk figure ini baik itu positif maupun negative. Namun, dari semua itu ada hal yang menarik jika kita memperhatikan pengguna/komunikator yang membawa pesan tersebut. Kenapa demikian? Dari keseluruhan komunikator yang menjual produk figure (pesan) tidak mengetahui secara pasti latar belakang orang yang dijualnya, hal ini dapatlah kita amati di dalam setiap komentar yang ada. Malah lebih miris lagi, ada pengguna/komunikator yang setelah menjual tak lagi berani berkomunikasi memberikan klarifikasi, sehingga komunikasi yang terbangun terkesan satu arah atau one way communication. Padahal, dalam setiap komunikasi yang dibangun diharapkan mampu menciptakan hubungan timbal balik antara komunikator/pengguna dengan komunikan/pembaca. Saya membaca problem ini sebagai permainan komunikator/pengguna media agar dapat bermain politik dua kaki, dimana dia hanya sedang berupaya menakar kekuatan calonnya dengan mengambil sample komentar para komunikan/pembacanya atas pesan yang disampaikan ataukah ia sedang mau menipu komunikan/pembaca pesannya bahwa nama itu hanyalah modus semata karena pada dasarnya produk figure yang disampaikan bukan pilihannya? Karena politik tidak murni jujur mengatakan iya, ketika nurani mengingikan tidak.
Dari catatan-catatan diatas, sudah barang tentu sebagai sebuah media pembangun opini public facebook memainkan peranan untuk menyelamatkan demokrasi di Indonesia maupun di tanah nagi Flores Timur. Namun demikian, sebagai media penampung opini masyarakat sudah barang tentu media ini jangan dijadikan satu-satunya rujukan untuk membuat kesimpulan secara general terhadap sesuatu hal (yang terpenting untuk membaca peta kekuatan politik menjelang pilkada Flotim) karena secara kasat mata ia memiliki cacat sosial yang akan berakibat pada ketidakharmonisan individu sebagai makhluk sosial. Perlu digaris bawahi pula, sebagai manusia berbudaya dan memiliki latar belakang yang sama sebagai orang Lamaholot, sudah barang tentu harus dapat menempatkan diri kita pada posisi yang netral. Dalam artian, berupaya memfilter setiap postingan dengan berupaya mencari tahu kebenaran yang sebenarnya dan kemudian memilih jalan/pilihan sesuai nurani masing-masing kita. Politik sendiri tidak mengenal kawan, karena semuanya dapat berubah dalam hitungan detik. Kita bersama tidak mau demokrasi kita menjadi cacat dengan tumbahan pesan-pesan yang dapat meruntuhkan akhlak pilihan rasional kita terhadap produk figure yang ada. Oleh karena itu, butuh sebuah regulasi yang mampu mengakomodir kepentingan kita bersama, dengan tidak harus melecehkan derajat kemanusian kita ataupun berlari mengejar kedirian kita yang lain. Karena cinta kita adalah sama untuk semua.
Saturday, January 31, 2015
Refleksi Dalam Puisi
REFLEKSI KISRUH KPK VS POLRI
Nuansa kelam menyelimuti, hadirkan tanya di akhlak ini.
Mencari siapa benar,siapa salah.
Realita pelik Indonesia di ujung harap, mengemuka di sekeliling suara penuh mohon.
Perang kata, perang politik, indah dilihat namun urung sepakat.
bukan siapa benar, siapa salah, siapa menang dan siapa yang kalah.
Dunia berubah, teman jadi lawan, dan berperang dalam diam.
Semua tunjuk kuasa, lantas rakyat menunggu.
Menunggu kisruh yang dipreteli politik balas dendam, membunuh lawan tanpa suara, dan berhentilah sesaat menyelamatkan rakyat kecil dalam liang ketidakpastian.
Kamu dan kamu milik rakyat, katanya
Rakyat harap, rakyat ingin.
Namun inginmu, terjerembab dalam lumpur kepongahan,
melabeli diri dengan kuasa, dan semua hingga kapan.
Suara kami tak lagi sepakat, terbelah dalam persepsi
berkaca dalam ilmu, namun ingin kami tetap serupa.
Berdirilah bersama, melangkah dengan pasti,
Indonesia milik kita semua, berhenti bermain.
Berhenti menggerogoti indahnya kebersamaan ini demi ingin semu.
Kita sama, sama untuk rakyat, dan sama untuk Indonesia.
Fransiskus X. Bala Keban (Staf RSPD FLOTIM dan tinggal di Larantuka)
Wednesday, January 28, 2015
Catatan Hidup
CATATAN HIDUP YANG DILUPAKAN
Salahku adalah membiarkan tangan ini melukiskan kisah di balik sisi hidup seorang yang mulai jengah dengan proses pembiaran akan makna dibalik realitas kehidupan yang terlipat oleh waktu. Dan Kutulis kisah ini saat aku tidak lagi bersama mereka yang senantiasa menjadi inspirasiku, tidak juga bersama kumpulan manusia yang senantiasa bercermin tentang ke-diri-an mereka yang tidak sempurna. Iya...hidup telah mengantar aku pada perbedaan ruang dan waktu, menyeretku pada pasungan keadaban hidup yang mulai berdiri menguasai sendi akhlakku dan menciptakan sebuah patron bahwa hidup adalah cerminan kegagalanku untuk menguasainya kembali. Bagi kebanyakan mereka aku hanya binatang jalanan yang mulai belajar untuk memaknai hidup dengan cara pandangku tanpa harus beriktiar untuk menganggap perbedaan sebagai sebuah keharusan untuk mencoba menjadi orang lain bagi mereka, aku tetap seperti yang dulu. Aku hanya tidak bisa membedakan sebuah cita-cita dan hayalan hingga aku terjerembab pada lubang keangkuhan walaupun keangkuhan ini tak lantas buatku melupakan siapa kalian, dan bagaimana kalian di mataku. Kalian tetap yang terbaik, aku hanya mau menjadi penting ketika orang yang kalian anggap penting mulai melupakan kalian. Aku memang binatang namun masih punya pikiran dan hati untuk melihat hidup ini sebagai sebuah proses belajar yang berbeda dengan pendidikan formal yang kujalani sejauh ini. Aku tetap seperti yang dulu dengan semua ceria yang kalian ajarkan, dengan tangis yang kalian berikan tuk bantuku berdiri sampai saat ini aku dapat menjadi manusia seutuhnya. Hidup memang keras namun percayalah Tuhan tahu kita akan bertemu nanti dan diwaktu tertentu.
Saturday, September 20, 2014
jika semua bukan mimpi
mentari pagi menyapa, menyeruak dan mengganggu mimpiku lantas membuatku tersadar bahwa hari baru kini menyapaku lagi. seonggok luka kutinggalkan di sudut kamar, dan dosa yang berserakan di otakku menjadi jaminan bahwa aku belum lupa bahwa hidup yang kujalani kini beerbeda dari biasanya. mimpi dan harapan yang kemarin bukan bunga tidur bukan pula pelampiasan akan sebuah yang nyata tapi hanya sekedar lewat dipelataran hari dan sepersekian detik harus terpental akibat keegoisanku membangun persepsi. hari kemarin membantuku berdiri, membuatku berjalan walaupun masih terasa lunglai, dan lelah namun semua haruslah jadi cambuk pemberi semangat karena Tuhan bersamaku...mat hari minggu buatku para pembaca sekalian,
Larinya HRS, Bukti Kalau Dia Manusia
Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan berita soal Habib Rizieq Shihab. Bukan soal pelanggaran protokol kesehatan saat tiba ...
-
Gagalpun Butuh Istirahat Kisah itu telah kutinggalkan. Ada yang masih tertata rapi di meja perjalanan ini. Ada yang berserakan...
-
SURAT UNTUK PEMIMPIN Detik kemenangan menanti, berpeluh keringat di ujungnya mengawal suara rakyat katanya. Sorot mata tertu...

