Showing posts with label budaya lamaholot. Show all posts
Showing posts with label budaya lamaholot. Show all posts

Friday, April 7, 2017

AHIK LE’AN KOKE: RITUAL ADAT YANG MENYATUKAN

(Fransiskus X. Bala Keban)*

Letaknya di selatan pulau Solor, diapiti dua desa yakni Bubu Atagamu dan Watanhura I, diperhadapkan dengan luasnya pantai selatan dengan busa putih gelombangnya yang memecah bebatuan dipinggir pantai, semakin menyemarakkan keindahan negeri itu. Desa Watanhura 2 atau lebih dikenal dengan desa Apelame namanya, desa kecil yang ditempuh kuranglebih 45 menit dengan kendaraan roda dua dari pelabuhan podor-Solor menyimpan cerita khas anak lewotana yang percaya dan begitu menghormati budayanya, hingga mampu menjaganya disaat budaya lokal mulai kehilangan jati dirinya. Dan ritual adat Ahik Le’an Koke atau Hari Raya Koke menjadi penegas betapa manusia begitu dekat dan tidak bisa dipisahkan dengan budaya turunan leluhur lewotana tersebut. Ritual yang diawali dengan ceremonial di rumah adat masing-masing suku yakni Suku Lein, Kabelen, Aran, Marandan Werang yang terletak di kampung induk tempat dimana masyarakatnya hidupdengan segala kesederhanaan dan meninggalkan segala bentuk perbedaan, yang membuat mereka begitu khas dimata para tamu yang sekedar lewat ataupun singgah diperkampungan tepian pantai ini. Betapa tidak, ritual adat Ahik Le’an Koke dijadikan ajang untuk menyatukan perbedaan tersebut, mulai dari menyatukan yang tua dan muda, menyatukan yang katolik dan islam dan menyatukan cerita sejarah tentang kampung indah ini.
Dan keindahan itu bertambah dalam prosesnya menuju ke kampung lamayang dalam bahasa sastra adatnya dinamakan lewo lamen lama dike, tana tukan wai lolon. Kampung yang diyakini masyarakat sesuai penuturan sejarahnya merupakan perpaduan atau penggabungan diantara 4 kampung filial dintaranya, Desa Apelame sebagai Lewo Tana Alat (pemilik kampung/tuan tanah), Kewukak, Lewoniron dan Lamaboleng yang kemudian dikenal dengan istilah wukak lewo pa niron tana lema.
“Dalam perjalanan menuju kampung lama, kami menyempatkan diri melakukan ritus bau lolon untuk obang (sorakan penyemangat saat mau perang) dan dilakukan sebanyak tiga kali di masing-masing titik yang telah ditentukan tersebut,” ungkap Bapak Muslimin Sanga Lein dan Bapak Matias Sina Kabelen, tokoh adat setempat. Menurut mereka, hal tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada Leluhur Lewotana yang masih melindungi kampung dan juga penghuninya selain mengulang apa yang pernah dilakukan nenek moyang mereka semasa dulu.

Sole Oha dan Hedung, Penegas Persatuan

Dan tarian hedung dan sole oha menjadi pembeda, pelepas kepenatan di siang yang tidak lagi teduh. Saat para pembesar suku mulai masuk ke rumah adat masing-masing, menunggu hantaran binatang dari masing-masing kampung filial (Kewukak, Lewoniron dan Lamaboleng), saat itu pula, masyarakat yang hadir memulai mengambil peralatan perang semacam parang dari kayu dan tameng tanda dimulainya tarian hedung. Gerak kaki yang khas dipelataran nama, dipadu dengan gerakan tangan seolah memukul lawan menandakan ciri masyarakat yang keras, namun punya daya juang walaupun di tanah yang gersang sekalipun. Demikianlah, hedung menjadi titik balik, dan penegas persatuan masyarakat adat desa setempat. Tidak ada dendam, yang hanya senyum kegembiraan yang terpancardari raut muka mereka, melangkah pasti memeriahkan ritual adat yang satu ini. Setelah lelah dengan tarian hedung yang menguras energi, mereka pun kembali ke area nama berdiri membentuk lingkaran,sembari tangan diletakkan dibahu mereka yang lain di sisi kiri kanan, pertanda tarian sole oha dimulai tanpa alunan musik tradisional dan hanya ditemani suara nyanyian oleh mereka ‘yang dipercayakan’ masyarakat adat menuturkan koda atau bahasa adat peninggalan nenek moyang. Indah, dan serasi tentunya, membuat pasang mata tidak lelah dan jenuh menyaksikan fenomena yang tidak lekang oleh waktu tersebut. Laki-laki dan perempuan melebur menjadi satu, dan debu ditengah nama pun turut menjadi saksi betapa peradaban zaman dulu begitu kental melekat dalam nadi orang-orang kampung itu, mengalir dan memaksa kaki untuk selalu bergerak,menunjukkan kepada mereka di negeri seberang yang penuh gemerlapan kekotaan bahwa inilah kami dengan kesederhanaan namun masih punya jiwa untuk bersatu walaupun kami berbeda.
“begitulah kami, tidak ada yang berbeda ketika kami sama-sama ada dalam tarian tadi,” tutur Matias Sina Kabelen, yang sedari tadi menemani para pengunjung walaupun dalam ritual ini ia memiliki peran yang amat penting sebagai anak suku kabelen.

Pemotongan Hewan Kurban, Puncak Ahik Le’an

Dan ketika hantaran hewan kurban selesai diantar ke rumah adat masing-masing suku, masyarakat atau ribu ratu diberi kesempatan untuk makan ataupun sekedar menyulut rokok sebatang bagi pria ataupun menguyah sirih pinang bagi kaum perempuan sembari menunggu ritual pemotongan hewan sebagai puncak ritual Ahik Le’a. Menariknya, pemotongan hewan dari masing-masing suku, harus diawali dengan pemotongan 2 hewan kurban masing-masing diatas bumbungan atap koke bale dan rumah adat kabelen, oleh beberapa orang yang dipercayakan ata kabelen raya. Sedang Ribu ratu menunggu di bawah halaman sekitar koke dengan beragam ekspresi, tegang, cemas pun mengiringi langkah kaki para pemuda kampung menaiki atap masing-masing sembari membopong hewan kurban. Namun berbeda dengan mereka para pelaku ritual pemotongan hewan diatas bumbungan, tidak ada keraguan sedikitpun yang terpancar dari wajah mereka terbukti sekali tebas, darah hewan kurban pun mengalir deras di atas atap dualangotersebut. Dan selanjutnya, ritual ini pun dilanjutkan dengan ritus Cahyo tuak atau te’bo tuak yang mana tuak yang disimpan di sebuah kumbang besar dituangkan di atas nama oleh para pembesar suku setelah sebelumnya menyanyikan lagu dalam bahasa adat setempat.Nama yang sedari ramai manusia, perlahan-lahan dijauhi oleh kaki anak negeri, pertanda ritus selanjutnya siap dilaksanakan dan ritus tersebut adalah pemotongan semua hewan kurban ataueba wolayang telah dibawa masuk oleh setiap utusan suku yang ada. Gembira, kagum, diselilingi gelak tawa mengiringi pemotongan hewan tersebut sementara penabu gong gendang tanpa henti-hentinyamenabuh dua alat musik khas lamholot tersebut menyemangati para pemotong hewan.“Ketika selesai dipotong kepalanya harus dibawah pulang ke suku masing-masing (kla’e) setelah itu rahang dari hewan itu dibersihkan kemudian digantung di pelataran koke atau istilahnya ahik koke atau hari raya koke,” ungkap Muslimin Sanga Lein.Sementara daging hewan-hewan tersebut yang telah dikumpulkan di rumah suku akan dibagikan kepada semua yang hadir sesuai dengan hitungan anak laki-laki dalam suku, tanpa lupa mereka-mereka yang sedang berada diluar daerah. Dan tentunya inilah hal yang membuat mereka terlihat begitu dekat satu dengan yang lainnya, walaupun tidak harus dengan bertatapan muka karena bagi mereka ikatan persaudaraan itu hanya dilihat dalam aliran darah, darah yang mencintai lewo lamen lama dike, tana tukan wai lolon.

Kampung Lama, Kental Akan Sejarah Budaya

Kekhasan peninggalan sejarah nenek moyang dan leluhur begitu kental terlihat bukan saja pada beberapa ritual yang telah disebutkan tadi sebagai bagian dari rangkaian Ahik Le’an Koke tetapi juga diperkuat dengan bentuk rumah adat yang masih terlihat kuno, natural dan namun kaya makna tersebut. Beratapkan ilalang, dengan dinding dari keneka dan bertiangkan bambu membuatnya begitu dicintai apalagi dengan beragam aksesoris mewakili masing-masing suku yang berdiam di daerah tersebut, tentunya membuat para pengunjungnya terpikat. Apalagi pengunjung akan kembali disuguhkan dengan deretan batu-batu ceper khas daerah tersebut yang disusun sedemikian rapinya sehingga wilayah kampung lama semakin indah. Dan Lima rumah yang berderet tersebut mengelilingikokedi tengahnya adalah perwujudan nyata kekuatan lewo tersebut dan tentunya mewakili lima suku yang mendiami kampung tersebut diantaranya suku Lein, Kabelen, Aran, Maran dan Werang. Dan kelima suku tersebut, kata para informan, memiliki gandengannya masing-masing seperti terlihat pada suku Lein yang punya gandengan dengannama, suku Lewo Aran dengan kopong raja mau u’e merik(batu dengan penyanggah dibawahnya), suku Kabelen dengan Koke ini, suku Ata Maran atau suku ura wai dipercayakan sebagai suku yang mendatangkan hujan saat masyrakat membutuhkannya, sedangkan suku Werang dan Lewo Aran, menjadi penghuni yang berasal dari gunung.

*Penulis adalah Koordinator Komunitas Wisata Menulis (KWM) Flotim-082359259635

Saturday, October 3, 2015

BUDAYA: DILUPAKAN ATAU TERSISIH




(Refleksi Atas Festival Seni Budaya Flotim)
*Frengky Keban
(Koordinator Komunitas Wisata Menulis-Flotim)


“Tanpa Manusia, budaya tidak ada, namun lebih penting dari itu, tanpa budaya, manusia tidak akan ada”
Demikian kata Cliford Geetz, Antropolog asal Amerika Serikat mengenai eksistensi budaya dan manusia. Sederhana, dan penuh makna. Iya manusia dan budaya tidak bisa dilepaskan satu dengan yang lainnya, walaupun bisa dibedakan bak mata uang yang memiliki dua sisi saling bersinggungan namun masih mampu untuk melengkapi. Dengan kata lain, budaya selalu mengiringi langkah hidup manusia, dan mampu menunjukkan eksistensi manusia itu sendiri. Betapa tidak, sejak manusia mengecap indahnya dunia diawal hidupnya, hingga ia kembali menutup mata mempertanggungjawabkan kinerja hidup kepada Sang Khalik, ia (manusia) sudah akrab dengan produk budaya seperti; tutur bahasa, nilai, norma, adat istiadat dll  yang berimbas pada perbedaan kepribadian yang dimilikinya tersebut.
Budaya sendiri secara etimologis, berasal dari bahasa sanskerta yakni Buddhi yang diartikan sebagai budi atau akal dan daya yang dapat dimaknai sebagai sebuah kekuatan, ataupun dorongan. Sehingga budaya secara sederhana dapatlah diartikan sebagai sebuah kekuatan, dorongan akal, budi manusia untuk menciptakan sesuatu. Dan jelas terlihat disini, bahwa untuk membuat atau menciptakan sesuatu seperti budaya tersebut, sudah barang tentu membutuhkan manusia karena seyogianya manusia adalah makhluk hidup yang dilengkapi dengan akal dan budi. Lebih dari itu, selain menciptakan, manusia pun mampu menjaga dan mewariskan apa yang diciptakan tersebut dengan komunikasi sebagai medianya. Manusia sedapat mungkin bisa menjadi penganut, pembawa, manipulator dan pencipta budaya itu. Dan tulisan ini hadir bukan untuk mengecam, ataupun membuat kita surut akan realitas pelik ini, namun mau membuat kita sadar kalau kita masih punya budaya yang layak untuk dibanggakan, dijaga dan dipertahankan.

Ada Apa Dengan Festival Budaya Flotim?
            Masyarakat Flores Timur sebagai sebagai sub kultur budaya Indonesia, yang dikenal dengan budaya lamaholot pun tidak pernah terlepas dari budaya itu sendiri, hal ini dapat terlihat dengan banyaknya produk seni budaya yang membuat Flotim kaya akan budaya hingga menyeret para pencinta seni budaya beramai-ramai hijrah sesaat di tana Flotim. Namun demikian, tidaklah disangsikan, acapkali banyak budaya lokal yang memuat kearifan lokal Flotim-Lamaholot mulai tergerus arus zaman. Gemohin misalnya, tidak lagi menjadi budaya turunan yang ‘mengasyikkan’di telinga kita lagi padahal gemohin adalah sebuah budaya turunan yang amat sangat identik dengan Lamaholot Flotim dan memberi nuansa indah diakhirnya. Hal ini pun berlaku juga ketika kita berbicara tentang seni budaya lain seperti tarian, karena terbukti banyak tarian di Flotim mulai kehilangan gairah kealamiannya akibat terisolir, dan terkontaminasi budaya modern yang mulai mewabah, sehingga banyak gerakannya tidak seiindah dulu. Mungkin inilah salah satu dari sekian banyak alasan yang mendorong Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Flotim di bawah kendali Andreas Ratu Kedang mengambil langkah berani menggelar Festival Seni Budaya Kabupaten Flotim ke-2 kalinya yang telah digelar Kamis (27/08) hingga Jumad (28/08) silam di Taman Kota.
            Festival yang diikuti 17 Kecamatan Minus Kecamatan Wotan Ulumado dan Kecamatan Wulanggitang adalah sebuah langkah untuk kembali memperkenalkan budaya Flotim yang kian hari kian didamprat oleh budaya kontemporer, dan memunculkan kembali yang dilupakan serta membuat khalayak yang hadir menginggat apa yang pernah mereka lihat, rasakan dengan berbagai seni budaya yang ditampilkan malam itu. Bukan hanya sekedar menentukan yang terbaik dari yang baik saja, dari semua penampilan yang rada spektakuler tersebut, ataupun sekedar menunjukkan bahwa Pemerintah melalui DISBUDPAR peduli tapi sekali lagi nilai seni budaya Lamaholot itu jauh melampaui batas siapa yang menang ataupun siapa yang pantas. Nilai seni budaya tidak ternilai maknanya.

Catatan Kritis Dibalik Festival Seni Budaya Flotim
Keberanian DISBUDPAR Flotim menggelar Festival Seni Budaya tentunya banyak diapresiasi banyak pencinta seni baik yang menonton langsung ataupun hanya sekedar membacanya di media surat kabar, namun demikian ada beberapa catatan penting yang menurut penulis wajib untuk diperhatikan, walaupun penulis sendiri tidak terlalu banyak memahami seni budaya itu sendiri karena penulis percaya tidak semua hal didunia ini baik adanya.
1.      Festival Seni Budaya Flotim: Pesta Orang Tua VS Kaum Muda
Sebagai Manusia yang berbudaya sudah barang tentu hukumnya untuk dapat mewariskan budaya leluhur kepada generasinya baik secara langsung maupun tidak langsung selain menciptakan budaya itu sendiri. Hematnya, Festival yang telah dan sudah digelar tersebut memiliki makna/pesan tersirat yang tidak tersampaikan bagi kaum tua untuk mulai berani berpikir untuk segera mewariskan seni budaya tersebut kepada mereka (kaum muda) yang sedang mulai kehilangan sendi nilai budaya Lamaholot. Rendahnya animo kaum muda dalam menyaksikan festival adalah indikator nyata kalau mereka terlampau apatis dengan seni budaya Lamaholot yang memiliki nilai tinggi tersebut, walaupun di sisi lain banyak sanggar yang pentas malam itu telah mulai memberi ruang khusus bagi kaum muda mengambil bagian di dalamnya. Tapi ingat, hanya dengan memberi ruang saja tidaklah cukup, karena banyak aspek kehidupan yang kemudian membuat mereka perlahan lupa akan budaya tersebut. Efeknya terlihat jelas, masih ada kecamatan-kecamatan di wilayah Flotim yang masih mempercayakan kaum tua untuk beraksi di atas panggung, memberikan yang mereka dapat dan yang dicintainya kepada para pencinta seni budaya Flotim. Apakah ini indikasi bahwa belum semua orang tua bisa menyalurkan ilmu seni budaya buat kaum muda ataukah kaum mudanya sendiri yang mulai emoh untuk siap mempelajari budaya leluhurnya. Mungkin.
2.      Festival Budaya Flotim: Pentas Rakyat, Wakil Rakyat atau Pemerintah.
Festival Budaya Flotim menyisahkan sedikit cerita yang mungkin membuat kita (rakyat) sedikit menggelengkan kepala dan menganggap ini adalah sebuah catatan yang sedikit ngawur, tapi festival malam itu bagi penulis tidaklah lengkap tanpa dihadiri para elit Pemerintahan dan wakil rakyat tentunya sebagai bagian dari budaya itu sendiri. Hematnya, budaya menembus perbedaan baik yang kaya miskin, tua muda, kota  desa, pejabat ataupun bukan, dan menembus sekat politik yang ada.  
Bukan persoalan siapa yang melaksanakan, bukan juga instansi apa tetapi bagaimana pelaksanaan festival yang pada akhirnya mendekatkan yang jauh, membuat negeri kita yang terlampau sibuk dengan urusan pelik politik yang tak berkesudahan guna mengatasi setiap persoalan yang terjadi selama ini menjadi sedikit adem ayem melalui lentikkan jemari, dan hentakkan kaki di atas panggung rakyat tersebut dengan tari dan cerita rakyat yang dikemas begitu indah. Festival ini akan terasa indah diakhirnya jika semua elemen rakyat Flotim mulai dari eksekutif, legislatif  melebur menjadi rakyat biasa, merasakan betapa nilai seni budaya itu bukanlah barang antik yang hanya punya orang tertentu (rakyat) tetapi juga punya semua orang termasuk kaum elit sendiri.
            Catatan-catatan tersebut, adalah sejumput cerita budaya kita, budaya hasil refleksi nenek moyang yang diwariskan buat kita hingga kini, membuat Flotim begitu dikenal seantero dunia sebagai pemilik sah budaya Lamaholot. Dan catatan ini, adalah sekedar refleksi humanis seorang anak tanah, yang tak terlalu paham apa itu seni budaya tetapi begitu mencintai Tanah ini, yang memberikan banyak dari ketidasempurnaannya yang dimiliki karena menjadi bangga ketika berada dalam lingkaran budaya yang membesarkannya. Sudah begitu, masihkah kita malu, untuk mengakui bahwa Budaya Lamaholot adalah budaya kita bersama? Karena tanpa budaya manusia akan kehilangan idealismenya.
*Biodata Penulis :
Tinggal               : Larantuka
Alamat Email     : engkykeban@gmail.com
Blog                    : arjunkeban@blogspot.com
No Hp                 : 082359259635


Larinya HRS, Bukti Kalau Dia Manusia

    Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan berita soal Habib Rizieq Shihab. Bukan soal pelanggaran protokol kesehatan saat tiba ...