Saturday, August 15, 2020

Neraka Itu Bernama Sunyi

 

Cerita Sunyi Dimulai

 

Daun mulai berjatuhan menjejali jalan sunyi kota ini. Sedang burung yang diatasnya sedari tadi berkicau tanpa henti seolah mengejekku yang terpaku diam tanpa kata. Seolah menunjukkan kepada dunia ada sunyi lain yang lebih sunyi dari sunyinya kubur tempat para pemilik hidup kembali ke khaliknya. 

Pikiranku kosong. Isinya pun sudah tidak bisa dijelaskan, semua hanya masa lalu. Iya masa dimana saya pernah menambatkan hati kering ini pada taman cinta yang basah. Menyentuh akhlakku dengan senyumnya, menenggalamkanku dalam mimpi indahnya bahkan di titik tertentu membuat cahaya hati yang sebelumnya padam, menyala kembali. Iya cahaya cintanya mengajarkanku melupakan banyak hal tentang diriku yang pernah segobloknya mencintai orang hingga bayangnya pun tidak pernah lepas dari ingatanku. Kegagalan masa lalu direngkuhnya dengan cintanya itu, membuatku mengakui bahwa dialah yang terbaik dan menjadi pilihan logis tuk selanjutnya. 

"Tidak pernah ada kata putus. Jiwa kita sudah terpaut dalam raga yang haus dalam cinta yang tulus. Dan saya merasakan dunia ini telah menyetujui kita di rumah yang sama. Akan sulit bagiku melupakan apa perjuangan kita,"kata perempuan yang selanjutnya kusebut senjaku itu. 

Iya sebutan itu adalah sebuah pengakuanku pada bumi juga pada alam yang mampu menghadirkan perempuan lain selain ibuku yang begitu saya cintai dan hormati. Dia perempuan kedua yang membuatku patuh hingga bertekuk lutut dihadapannya. Bagiku dialah kaki dan tanganku yang selalu membuatku mematahkan ego diri yang terlampau besar. Kemarahanku dapat dengan mudahnya luluh dengan suaranya dari kejauhan, menjadikanku begitu bodoh dalam kata maaf. Begitupun dengan manjanya. 

"Argh sudahlah,"gumamku lirih. 

Ingin melupakan semua yang indah dan mematikan kenangan itu sekarang namun semuanya terasa berat untuk kulakukan. Semakin aku menenggelamkan kenangan itu ke dasar laut, semakin dia kembali lebih kuat. Bahkan menyeretku kembali ke cerita itu lagi dan lagi sampai aku lupa sudah berapa kali cerita itu harus kuulang lagi. 

"Aku menerimamu dalam sederhanamu. Kamu berbeda dan buatku jatuh cinta sampai lupa berapa kali saya gagal. Kamu berbeda,"jawabku kala kuharus dihadapkan pada sebuah ragunya. 

Dan itu kuanggap sebagai cerita keyakinan yang mesti dia tanyakan walaupun aku tidak terlalu menyukai hal yang semacam itu. Bagiku saat aku mencintainya aku percaya bahwa cintaku itu jawaban bukan untuk dipertanyakan lagi. Tapi sudahlah, dia wanita, wanita yang juga pernah dikecewakan dan patut untuk dipahami.

 

 

Bersambung….

 

 

Friday, August 14, 2020

Indah Itu Kamu

 

Indah Itu Kamu..
Sederhana namun bermakna. 
Sulit namun mampu diselami. 
Indah itu kamu..
Yang beri rasa tetap ada
Dan buat keyakinan membuncah dalam diam
Indah itu kamu..
Yang selalu ada 
Dan buatku percaya kamulah yang terindah.
Senjaku...


Wtb (14/11/2019)

Thursday, August 13, 2020

Ceritaku Diakhir Malam


Gagalpun Butuh Istirahat


Kisah itu telah kutinggalkan. 
Ada yang masih tertata rapi di meja perjalanan ini. 
Ada yang berserakan diinjak waktu dan urung kupungut. 
Semuanya tentang kisahku. 
Kisah hidup antara pergi, lalu datang lagi. Menjemputku tuk selalu berharap dan terus berharap. 
Hingga di titik ini aku lelah kalau hanya berharap. 
Aku ingin bukti, bukti kalau aku masih bisa berdiri, walaupun sakit selalu kembali. menyeruak di alam pikirku. 
Iya sakit itu telah menampar kaki dan tanganku tuk sadar, 
sadar bahwa hidup masih berlanjut dengan cerita baru yang lebih baik. 
Dan kisah ini kumulai lagi dengan tulisan lain di buku baruku, bukan untuk mengulang yang buruk tapi mulai menata yang sederhana menjadi luar biasa. Dari kekecewaan jadi kegembiraan dan dari ketiadaan menjadi ada. Dan kisah ini kututup sementara di malam ini, membiarkan dia mengendap sementara seiring mata yang berat dan otak yang berpikir tanpa henti. Semoga esok kisah ini masih ada yang indah dan selalu indah untuk hidup lebih baik.


Wtb 13 Agustus 2020

Tuesday, October 16, 2018

Kamu tetap Kamu

Ada ruang rindu terselip dalam doa.
Doaku setiap mata terpejam, dan doa saat mata menatap mentari.
Buat hariku berbeda dan lebih hidup.
Kamu, iya kamu telah bangkitkan percayaku, menarikku keluar dari takut untuk berjuang lagi dan lagi. Kamu adalah alasanku tetap berdiri tegak, berjalan penuh optimisme sambut hariku, dan selalu jadi penopang saatku lelah. Iya masih kamu dengan sejuta alasan tak terungkap. Baringkan raga rapuh ini, dan tenangkan jiwa yang terlampau suram. Kamu tetap kamu yang buatku nyaman hingga mulut ini  percaya bahwa Cinta itu indah.

Saturday, February 3, 2018

Hidup itu harus diperjuangkan



Hidup selalu punya makna. Memiliki sisi manis dan pahit, bagai sisi mata uang yang menyatu namun kemudian berbeda karena ada yang membedakannya. Begitu pun jalan hidup ini, selalu mengintari dan menglingkupinya hanya dengan kata baik dan buruk tanpa punya pilihan lain untuk mengungkapkannya karena inilah realitanya. Tidak akan ada orang yang memilih menjadi orang baik, dan tidak akan ada orang yang kemudian memilih menjadi orang jahat (buruk). begitu pun dengan diri ini yang punya dua sisi hidup yang membuatku harus mengakui bahwa sejauh ini saya belumlah sempurna bagi mereka yang mengenalku. Walaupun saya tahu bahwa sempurna itu hanyalah ilusi ciptaan manusia belaka dan tidak bisa menyentuh sedikitpun ketidaksempurnaan Sang Khalik, namun hal itulah yang harus  diperjuangkan sebagai sebuah alasan kenapa kita diberi kesempatan untuk merasakan aura kehidupan di dunia ini. Sifat keras kepala, emosional, dan semua yang sisi gelap yang dimiliki seolah jadi bumbu perjalanan kehidupan ini yang larut dalam air pengharapan untuk berubah menjadi figur lain di luar diri ini. Hingga, semua terasa berbeda di titik ini. Iya berbeda karena diri ini harus melawan keinginan untuk mempertahankan diri yang dianggap sudah mencapai titik klimaks dan enggan untuk berbalik kembali memungut serpihan sisi lain yang telah kutinggalkan, termasuk membuka lembar demi lembar kertas kisah kelam yang telah kututup rapat, walaupun diantara semua kisah itu ada yang telah kuanggap penting. Ketakutan akan masa lalu yang teramatlah yang membuatku keengganan itu menyeruak di dinding pikir ini, menggerogotinya hingga tak tersisa lagi untuk ku. saya tidak mau hidupku hanya berkutat pada rasa bersalah akan kesalahan masa lalu yang lantas membuat mereka menjadi kecewa dan memilih pergi dari diriku yang seegois ini. Dan kini takdir itu pun seperti kembali dengan kisah yang berbeda saat semuanya telah kuyakinkan selesai di titik ini, hingga kulupa kalau tanda koma itu masih ada menglingkupinya dan merenggutnya dari diriku. Tinggalkan puzzle yang belum lengkap untuk buatnya sempurna. Lalu??
Petualangan akan hidup ini kini kumulai lagi dari titik nol. Dari ketiadaan dan kehampaan untuk membuatnya menjadi ada kembali walaupun harus diakui bayangan semu kegagalan itu akan lekat terus seiring langkah kaki yang tidak akan berhenti di titik ini. Karena bagiku masih banyak yang harus kukejar untuk hidup dan bagi mereka yang telah mencintaiku sejauh ini. Ruang membalas itu telah disiapkan, tinggal kupakai dengan semua yang kumiliki ini walaupun harus menguras semua tenaga dan pikiran yang ada, walaupun kesadaran ini cukup paham bahwa itu tidak akan cukup membuat mereka membalas. Saat meninggalkan yang dibelakang, bergerak selangkah lebih baik dari hari kemarin membuat impian itu menjadi sebuah kenyataan untuk kurengkuh. Selalu ada ruang kembali, dan berjuang seperti sedia kalanya. Membentuk diri dengan tarikan nafas keberhasilan, dan mengembuskannya kembali untuk membuat orang bangga pernah meninggalkan diri yang rapuh. Perubahan itu tidak butuh orang lain, andalah yang menciptakannya sendiri dan siap untuk menjalankannya sebagaimana anda sebagai pejuang.


Wtb/FXBK

Tuesday, January 30, 2018

Rindu II

Namamu Rindu,
iya Rindu, tepatri dalam jiwa,
didekap malam dan pagiku, 
menghantarku melanglang buana di negeri seribu satu mimpi,
membuatku lupa kalau Rindu hanya sementara
bersemayam dalam relung hatiku karena Rindu ini akan berganti nama secepat Rindu itu pergi..


wtb/FXBK

rindu 1

Sajak Rindu

Rindu berpeluh duka, menjelajahi raga yang kalut. Biarkan jiwa terlepas dalam ingin lalu tersentak pergi. 
Malam teriak dan terus berteriak
menakar yang belum sempat diraih
namun kaki tak bisa lagi melangkah 
dan tangan ini, aw sama saja tak mampu lagi berbuat.
Dan Rindu tetaplah rindu, 
berjalan seiring akhlak yang tak mampu menjawab, 
mengikuti hati yang sudah terlebih dahulu beranjak dari singgasana kenyamaan 
dan meninggalkan luka di sisinya.
Aw...rindu akan tetap rindu, 
rindu yang tak bisa tergantikan walau hari tak lagi sama, dan bulan telah berganti nama. 
Dan rindu itupun masih ada, kemarin, hari ini dan di masa yang akan datang.
#SelamatMenikmatiHidupmu

Sajak Pengantar Mimpi

Kutulis kisahku saat semua yang kuharapkan tak lagi sama, 
seperti awan pada langit, bunga pada tanah.
Rumit, dan tersisih
Mengundang tanya tapi minim jawaban, 
sia-sia dan lenyap.
Tinggalkan raga yang menyepi dan terus menyepi, 
menoleh pada kilas balik hidup namun pantang maju.
Mencoba bersuara pada titik ini, tapi lidah seolah keluh bercampur luka di dalamnya.
Semua pupus saat kamu bukan dia yang kucari...

#SajakPengantarMimpi"
wtb/FXBK

Sunday, January 28, 2018

CATATAN HIDUP YANG DILUPAKAN

Refleksi Tentang Malam


Salahku adalah membiarkan tangan ini melukiskan kisah di balik sisi hidup seorang yang mulai jengah dengan proses pembiaran akan makna dibalik realitas kehidupan yang terlipat oleh waktu. Dan Kutulis kisah ini saat aku tidak lagi bersama mereka yang senantiasa menjadi inspirasiku, tidak juga bersama kumpulan manusia yang senantiasa bercermin tentang ke-diri-an mereka yang tidak sempurna. Iya...hidup telah mengantar aku pada perbedaan ruang dan waktu, menyeretku pada pasungan keadaban hidup yang mulai berdiri menguasai sendi akhlakku dan menciptakan sebuah patron bahwa hidup adalah cerminan kegagalanku untuk menguasainya kembali.  Bagi kebanyakan mereka, aku hanya binatang jalanan yang mulai belajar untuk memaknai hidup dengan cara pandangku tanpa harus beriktiar untuk menganggap perbedaan sebagai sebuah keharusan untuk mencoba menjadi orang lain bagi mereka, aku tetap seperti yang dulu. Aku hanya tidak bisa membedakan sebuah cita-cita dan hayalan hingga aku terjerembab pada lubang keangkuhan walaupun keangkuhan ini tak lantas buatku melupakan siapa kalian, dan bagaimana kalian di mataku. Kalian tetap yang terbaik, aku hanya mau menjadi penting ketika orang yang kalian anggap penting mulai melupakan kalian. Aku memang binatang namun masih punya pikiran dan hati untuk melihat hidup ini sebagai sebuah proses belajar yang berbeda dengan pendidikan formal yang kujalani sejauh ini. Aku tetap seperti yang dulu dengan semua ceria yang kalian ajarkan, dengan tangis yang kalian berikan tuk bantuku berdiri sampai saat ini aku dapat menjadi manusia seutuhnya. Tanpa harus hidup dalam kepura-puraan yang semu, atau hanya sekedar menjadi penggembira ditengah kekalutan hidup ini karena hidup selalu punya makna keras diawal namun selalu lembut diakhit ceritanya sembari menunggu saat yang tepat untuk Tuhan mempertemukan kita kembali di titik yang sama walaupun di waktu yang berbeda.

wtb,28/1


Sunday, April 16, 2017

Sajak Buatmu Pemimpin

Secarik kertas usang tulisan tangan
aku, dia dan mereka wakili harap kami.
Iya..kami adalah pemilik negeri ini yang kadang ditipu, yang punya 'Tuan' tapi tidak pernah dituankan, malah hanya dijadikan hamba kepentingan dan hasrat semu, dipreteli dengan janji tanpa merasakan janji itu sendiri.
Surat usang ini kami layangkan saat kegerahan kami memuncak di alam pikir, tidak selaras dengan kerinduan akan janji, lantas menyeret kemauan tuk 'memberontak' sembari berharap pemimpin kami membaca serpihan luka dalam surat ini.
Bukan untuk mengubah apa yang sudah terjadi, atau pun membenarkan saat mata melihat yang tidak benar, tetapi hanya untuk menegur kalau kalau kami yang empunya negeri ini.
Kami masih berharap dan terus berharap, bukan tuk mau ditipu lagi, atau sekedar mau dikeyangkan dengan janji manis namun terasa pahit diakhirnya. Kami hanya meminta apa yang seharusnya dilakukan, dan bukan diharapkan, ataupun yang dirindukan karena kami menuntut yang ada bukan nanti tapi sekarang.
Surat usang ini, adalah cacatan semu, mungkin juga dinamika hidup kami sebagai 'rakyat' yang kata mereka punya kuasa lebih ketimbang penguasa tetapi terkadang kuasa kami dikerdilkan karena tidak punya posisi, jabatan dan uang. Ah..rumit, tetapi serumit ini kah hidup kami? atau memang begini nasib jadi rakyat? mungkin juga, yang pasti kami masih disini, masih ditempat yang sama tempat para leluhur kami mengajarkan kebenaran yang sesungguhnya sembari berharap lahirnya pemimpin baru dengan janji bukan membutakan tetapi menerangkan kegelapan kami.
#SajakTukPemimpin-TutupHari"

Friday, April 7, 2017

AHIK LE’AN KOKE: RITUAL ADAT YANG MENYATUKAN

(Fransiskus X. Bala Keban)*

Letaknya di selatan pulau Solor, diapiti dua desa yakni Bubu Atagamu dan Watanhura I, diperhadapkan dengan luasnya pantai selatan dengan busa putih gelombangnya yang memecah bebatuan dipinggir pantai, semakin menyemarakkan keindahan negeri itu. Desa Watanhura 2 atau lebih dikenal dengan desa Apelame namanya, desa kecil yang ditempuh kuranglebih 45 menit dengan kendaraan roda dua dari pelabuhan podor-Solor menyimpan cerita khas anak lewotana yang percaya dan begitu menghormati budayanya, hingga mampu menjaganya disaat budaya lokal mulai kehilangan jati dirinya. Dan ritual adat Ahik Le’an Koke atau Hari Raya Koke menjadi penegas betapa manusia begitu dekat dan tidak bisa dipisahkan dengan budaya turunan leluhur lewotana tersebut. Ritual yang diawali dengan ceremonial di rumah adat masing-masing suku yakni Suku Lein, Kabelen, Aran, Marandan Werang yang terletak di kampung induk tempat dimana masyarakatnya hidupdengan segala kesederhanaan dan meninggalkan segala bentuk perbedaan, yang membuat mereka begitu khas dimata para tamu yang sekedar lewat ataupun singgah diperkampungan tepian pantai ini. Betapa tidak, ritual adat Ahik Le’an Koke dijadikan ajang untuk menyatukan perbedaan tersebut, mulai dari menyatukan yang tua dan muda, menyatukan yang katolik dan islam dan menyatukan cerita sejarah tentang kampung indah ini.
Dan keindahan itu bertambah dalam prosesnya menuju ke kampung lamayang dalam bahasa sastra adatnya dinamakan lewo lamen lama dike, tana tukan wai lolon. Kampung yang diyakini masyarakat sesuai penuturan sejarahnya merupakan perpaduan atau penggabungan diantara 4 kampung filial dintaranya, Desa Apelame sebagai Lewo Tana Alat (pemilik kampung/tuan tanah), Kewukak, Lewoniron dan Lamaboleng yang kemudian dikenal dengan istilah wukak lewo pa niron tana lema.
“Dalam perjalanan menuju kampung lama, kami menyempatkan diri melakukan ritus bau lolon untuk obang (sorakan penyemangat saat mau perang) dan dilakukan sebanyak tiga kali di masing-masing titik yang telah ditentukan tersebut,” ungkap Bapak Muslimin Sanga Lein dan Bapak Matias Sina Kabelen, tokoh adat setempat. Menurut mereka, hal tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada Leluhur Lewotana yang masih melindungi kampung dan juga penghuninya selain mengulang apa yang pernah dilakukan nenek moyang mereka semasa dulu.

Sole Oha dan Hedung, Penegas Persatuan

Dan tarian hedung dan sole oha menjadi pembeda, pelepas kepenatan di siang yang tidak lagi teduh. Saat para pembesar suku mulai masuk ke rumah adat masing-masing, menunggu hantaran binatang dari masing-masing kampung filial (Kewukak, Lewoniron dan Lamaboleng), saat itu pula, masyarakat yang hadir memulai mengambil peralatan perang semacam parang dari kayu dan tameng tanda dimulainya tarian hedung. Gerak kaki yang khas dipelataran nama, dipadu dengan gerakan tangan seolah memukul lawan menandakan ciri masyarakat yang keras, namun punya daya juang walaupun di tanah yang gersang sekalipun. Demikianlah, hedung menjadi titik balik, dan penegas persatuan masyarakat adat desa setempat. Tidak ada dendam, yang hanya senyum kegembiraan yang terpancardari raut muka mereka, melangkah pasti memeriahkan ritual adat yang satu ini. Setelah lelah dengan tarian hedung yang menguras energi, mereka pun kembali ke area nama berdiri membentuk lingkaran,sembari tangan diletakkan dibahu mereka yang lain di sisi kiri kanan, pertanda tarian sole oha dimulai tanpa alunan musik tradisional dan hanya ditemani suara nyanyian oleh mereka ‘yang dipercayakan’ masyarakat adat menuturkan koda atau bahasa adat peninggalan nenek moyang. Indah, dan serasi tentunya, membuat pasang mata tidak lelah dan jenuh menyaksikan fenomena yang tidak lekang oleh waktu tersebut. Laki-laki dan perempuan melebur menjadi satu, dan debu ditengah nama pun turut menjadi saksi betapa peradaban zaman dulu begitu kental melekat dalam nadi orang-orang kampung itu, mengalir dan memaksa kaki untuk selalu bergerak,menunjukkan kepada mereka di negeri seberang yang penuh gemerlapan kekotaan bahwa inilah kami dengan kesederhanaan namun masih punya jiwa untuk bersatu walaupun kami berbeda.
“begitulah kami, tidak ada yang berbeda ketika kami sama-sama ada dalam tarian tadi,” tutur Matias Sina Kabelen, yang sedari tadi menemani para pengunjung walaupun dalam ritual ini ia memiliki peran yang amat penting sebagai anak suku kabelen.

Pemotongan Hewan Kurban, Puncak Ahik Le’an

Dan ketika hantaran hewan kurban selesai diantar ke rumah adat masing-masing suku, masyarakat atau ribu ratu diberi kesempatan untuk makan ataupun sekedar menyulut rokok sebatang bagi pria ataupun menguyah sirih pinang bagi kaum perempuan sembari menunggu ritual pemotongan hewan sebagai puncak ritual Ahik Le’a. Menariknya, pemotongan hewan dari masing-masing suku, harus diawali dengan pemotongan 2 hewan kurban masing-masing diatas bumbungan atap koke bale dan rumah adat kabelen, oleh beberapa orang yang dipercayakan ata kabelen raya. Sedang Ribu ratu menunggu di bawah halaman sekitar koke dengan beragam ekspresi, tegang, cemas pun mengiringi langkah kaki para pemuda kampung menaiki atap masing-masing sembari membopong hewan kurban. Namun berbeda dengan mereka para pelaku ritual pemotongan hewan diatas bumbungan, tidak ada keraguan sedikitpun yang terpancar dari wajah mereka terbukti sekali tebas, darah hewan kurban pun mengalir deras di atas atap dualangotersebut. Dan selanjutnya, ritual ini pun dilanjutkan dengan ritus Cahyo tuak atau te’bo tuak yang mana tuak yang disimpan di sebuah kumbang besar dituangkan di atas nama oleh para pembesar suku setelah sebelumnya menyanyikan lagu dalam bahasa adat setempat.Nama yang sedari ramai manusia, perlahan-lahan dijauhi oleh kaki anak negeri, pertanda ritus selanjutnya siap dilaksanakan dan ritus tersebut adalah pemotongan semua hewan kurban ataueba wolayang telah dibawa masuk oleh setiap utusan suku yang ada. Gembira, kagum, diselilingi gelak tawa mengiringi pemotongan hewan tersebut sementara penabu gong gendang tanpa henti-hentinyamenabuh dua alat musik khas lamholot tersebut menyemangati para pemotong hewan.“Ketika selesai dipotong kepalanya harus dibawah pulang ke suku masing-masing (kla’e) setelah itu rahang dari hewan itu dibersihkan kemudian digantung di pelataran koke atau istilahnya ahik koke atau hari raya koke,” ungkap Muslimin Sanga Lein.Sementara daging hewan-hewan tersebut yang telah dikumpulkan di rumah suku akan dibagikan kepada semua yang hadir sesuai dengan hitungan anak laki-laki dalam suku, tanpa lupa mereka-mereka yang sedang berada diluar daerah. Dan tentunya inilah hal yang membuat mereka terlihat begitu dekat satu dengan yang lainnya, walaupun tidak harus dengan bertatapan muka karena bagi mereka ikatan persaudaraan itu hanya dilihat dalam aliran darah, darah yang mencintai lewo lamen lama dike, tana tukan wai lolon.

Kampung Lama, Kental Akan Sejarah Budaya

Kekhasan peninggalan sejarah nenek moyang dan leluhur begitu kental terlihat bukan saja pada beberapa ritual yang telah disebutkan tadi sebagai bagian dari rangkaian Ahik Le’an Koke tetapi juga diperkuat dengan bentuk rumah adat yang masih terlihat kuno, natural dan namun kaya makna tersebut. Beratapkan ilalang, dengan dinding dari keneka dan bertiangkan bambu membuatnya begitu dicintai apalagi dengan beragam aksesoris mewakili masing-masing suku yang berdiam di daerah tersebut, tentunya membuat para pengunjungnya terpikat. Apalagi pengunjung akan kembali disuguhkan dengan deretan batu-batu ceper khas daerah tersebut yang disusun sedemikian rapinya sehingga wilayah kampung lama semakin indah. Dan Lima rumah yang berderet tersebut mengelilingikokedi tengahnya adalah perwujudan nyata kekuatan lewo tersebut dan tentunya mewakili lima suku yang mendiami kampung tersebut diantaranya suku Lein, Kabelen, Aran, Maran dan Werang. Dan kelima suku tersebut, kata para informan, memiliki gandengannya masing-masing seperti terlihat pada suku Lein yang punya gandengan dengannama, suku Lewo Aran dengan kopong raja mau u’e merik(batu dengan penyanggah dibawahnya), suku Kabelen dengan Koke ini, suku Ata Maran atau suku ura wai dipercayakan sebagai suku yang mendatangkan hujan saat masyrakat membutuhkannya, sedangkan suku Werang dan Lewo Aran, menjadi penghuni yang berasal dari gunung.

*Penulis adalah Koordinator Komunitas Wisata Menulis (KWM) Flotim-082359259635

Larinya HRS, Bukti Kalau Dia Manusia

    Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan berita soal Habib Rizieq Shihab. Bukan soal pelanggaran protokol kesehatan saat tiba ...