Sunday, January 28, 2018

CATATAN HIDUP YANG DILUPAKAN

Refleksi Tentang Malam


Salahku adalah membiarkan tangan ini melukiskan kisah di balik sisi hidup seorang yang mulai jengah dengan proses pembiaran akan makna dibalik realitas kehidupan yang terlipat oleh waktu. Dan Kutulis kisah ini saat aku tidak lagi bersama mereka yang senantiasa menjadi inspirasiku, tidak juga bersama kumpulan manusia yang senantiasa bercermin tentang ke-diri-an mereka yang tidak sempurna. Iya...hidup telah mengantar aku pada perbedaan ruang dan waktu, menyeretku pada pasungan keadaban hidup yang mulai berdiri menguasai sendi akhlakku dan menciptakan sebuah patron bahwa hidup adalah cerminan kegagalanku untuk menguasainya kembali.  Bagi kebanyakan mereka, aku hanya binatang jalanan yang mulai belajar untuk memaknai hidup dengan cara pandangku tanpa harus beriktiar untuk menganggap perbedaan sebagai sebuah keharusan untuk mencoba menjadi orang lain bagi mereka, aku tetap seperti yang dulu. Aku hanya tidak bisa membedakan sebuah cita-cita dan hayalan hingga aku terjerembab pada lubang keangkuhan walaupun keangkuhan ini tak lantas buatku melupakan siapa kalian, dan bagaimana kalian di mataku. Kalian tetap yang terbaik, aku hanya mau menjadi penting ketika orang yang kalian anggap penting mulai melupakan kalian. Aku memang binatang namun masih punya pikiran dan hati untuk melihat hidup ini sebagai sebuah proses belajar yang berbeda dengan pendidikan formal yang kujalani sejauh ini. Aku tetap seperti yang dulu dengan semua ceria yang kalian ajarkan, dengan tangis yang kalian berikan tuk bantuku berdiri sampai saat ini aku dapat menjadi manusia seutuhnya. Tanpa harus hidup dalam kepura-puraan yang semu, atau hanya sekedar menjadi penggembira ditengah kekalutan hidup ini karena hidup selalu punya makna keras diawal namun selalu lembut diakhit ceritanya sembari menunggu saat yang tepat untuk Tuhan mempertemukan kita kembali di titik yang sama walaupun di waktu yang berbeda.

wtb,28/1


Sunday, April 16, 2017

Sajak Buatmu Pemimpin

Secarik kertas usang tulisan tangan
aku, dia dan mereka wakili harap kami.
Iya..kami adalah pemilik negeri ini yang kadang ditipu, yang punya 'Tuan' tapi tidak pernah dituankan, malah hanya dijadikan hamba kepentingan dan hasrat semu, dipreteli dengan janji tanpa merasakan janji itu sendiri.
Surat usang ini kami layangkan saat kegerahan kami memuncak di alam pikir, tidak selaras dengan kerinduan akan janji, lantas menyeret kemauan tuk 'memberontak' sembari berharap pemimpin kami membaca serpihan luka dalam surat ini.
Bukan untuk mengubah apa yang sudah terjadi, atau pun membenarkan saat mata melihat yang tidak benar, tetapi hanya untuk menegur kalau kalau kami yang empunya negeri ini.
Kami masih berharap dan terus berharap, bukan tuk mau ditipu lagi, atau sekedar mau dikeyangkan dengan janji manis namun terasa pahit diakhirnya. Kami hanya meminta apa yang seharusnya dilakukan, dan bukan diharapkan, ataupun yang dirindukan karena kami menuntut yang ada bukan nanti tapi sekarang.
Surat usang ini, adalah cacatan semu, mungkin juga dinamika hidup kami sebagai 'rakyat' yang kata mereka punya kuasa lebih ketimbang penguasa tetapi terkadang kuasa kami dikerdilkan karena tidak punya posisi, jabatan dan uang. Ah..rumit, tetapi serumit ini kah hidup kami? atau memang begini nasib jadi rakyat? mungkin juga, yang pasti kami masih disini, masih ditempat yang sama tempat para leluhur kami mengajarkan kebenaran yang sesungguhnya sembari berharap lahirnya pemimpin baru dengan janji bukan membutakan tetapi menerangkan kegelapan kami.
#SajakTukPemimpin-TutupHari"

Friday, April 7, 2017

AHIK LE’AN KOKE: RITUAL ADAT YANG MENYATUKAN

(Fransiskus X. Bala Keban)*

Letaknya di selatan pulau Solor, diapiti dua desa yakni Bubu Atagamu dan Watanhura I, diperhadapkan dengan luasnya pantai selatan dengan busa putih gelombangnya yang memecah bebatuan dipinggir pantai, semakin menyemarakkan keindahan negeri itu. Desa Watanhura 2 atau lebih dikenal dengan desa Apelame namanya, desa kecil yang ditempuh kuranglebih 45 menit dengan kendaraan roda dua dari pelabuhan podor-Solor menyimpan cerita khas anak lewotana yang percaya dan begitu menghormati budayanya, hingga mampu menjaganya disaat budaya lokal mulai kehilangan jati dirinya. Dan ritual adat Ahik Le’an Koke atau Hari Raya Koke menjadi penegas betapa manusia begitu dekat dan tidak bisa dipisahkan dengan budaya turunan leluhur lewotana tersebut. Ritual yang diawali dengan ceremonial di rumah adat masing-masing suku yakni Suku Lein, Kabelen, Aran, Marandan Werang yang terletak di kampung induk tempat dimana masyarakatnya hidupdengan segala kesederhanaan dan meninggalkan segala bentuk perbedaan, yang membuat mereka begitu khas dimata para tamu yang sekedar lewat ataupun singgah diperkampungan tepian pantai ini. Betapa tidak, ritual adat Ahik Le’an Koke dijadikan ajang untuk menyatukan perbedaan tersebut, mulai dari menyatukan yang tua dan muda, menyatukan yang katolik dan islam dan menyatukan cerita sejarah tentang kampung indah ini.
Dan keindahan itu bertambah dalam prosesnya menuju ke kampung lamayang dalam bahasa sastra adatnya dinamakan lewo lamen lama dike, tana tukan wai lolon. Kampung yang diyakini masyarakat sesuai penuturan sejarahnya merupakan perpaduan atau penggabungan diantara 4 kampung filial dintaranya, Desa Apelame sebagai Lewo Tana Alat (pemilik kampung/tuan tanah), Kewukak, Lewoniron dan Lamaboleng yang kemudian dikenal dengan istilah wukak lewo pa niron tana lema.
“Dalam perjalanan menuju kampung lama, kami menyempatkan diri melakukan ritus bau lolon untuk obang (sorakan penyemangat saat mau perang) dan dilakukan sebanyak tiga kali di masing-masing titik yang telah ditentukan tersebut,” ungkap Bapak Muslimin Sanga Lein dan Bapak Matias Sina Kabelen, tokoh adat setempat. Menurut mereka, hal tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada Leluhur Lewotana yang masih melindungi kampung dan juga penghuninya selain mengulang apa yang pernah dilakukan nenek moyang mereka semasa dulu.

Sole Oha dan Hedung, Penegas Persatuan

Dan tarian hedung dan sole oha menjadi pembeda, pelepas kepenatan di siang yang tidak lagi teduh. Saat para pembesar suku mulai masuk ke rumah adat masing-masing, menunggu hantaran binatang dari masing-masing kampung filial (Kewukak, Lewoniron dan Lamaboleng), saat itu pula, masyarakat yang hadir memulai mengambil peralatan perang semacam parang dari kayu dan tameng tanda dimulainya tarian hedung. Gerak kaki yang khas dipelataran nama, dipadu dengan gerakan tangan seolah memukul lawan menandakan ciri masyarakat yang keras, namun punya daya juang walaupun di tanah yang gersang sekalipun. Demikianlah, hedung menjadi titik balik, dan penegas persatuan masyarakat adat desa setempat. Tidak ada dendam, yang hanya senyum kegembiraan yang terpancardari raut muka mereka, melangkah pasti memeriahkan ritual adat yang satu ini. Setelah lelah dengan tarian hedung yang menguras energi, mereka pun kembali ke area nama berdiri membentuk lingkaran,sembari tangan diletakkan dibahu mereka yang lain di sisi kiri kanan, pertanda tarian sole oha dimulai tanpa alunan musik tradisional dan hanya ditemani suara nyanyian oleh mereka ‘yang dipercayakan’ masyarakat adat menuturkan koda atau bahasa adat peninggalan nenek moyang. Indah, dan serasi tentunya, membuat pasang mata tidak lelah dan jenuh menyaksikan fenomena yang tidak lekang oleh waktu tersebut. Laki-laki dan perempuan melebur menjadi satu, dan debu ditengah nama pun turut menjadi saksi betapa peradaban zaman dulu begitu kental melekat dalam nadi orang-orang kampung itu, mengalir dan memaksa kaki untuk selalu bergerak,menunjukkan kepada mereka di negeri seberang yang penuh gemerlapan kekotaan bahwa inilah kami dengan kesederhanaan namun masih punya jiwa untuk bersatu walaupun kami berbeda.
“begitulah kami, tidak ada yang berbeda ketika kami sama-sama ada dalam tarian tadi,” tutur Matias Sina Kabelen, yang sedari tadi menemani para pengunjung walaupun dalam ritual ini ia memiliki peran yang amat penting sebagai anak suku kabelen.

Pemotongan Hewan Kurban, Puncak Ahik Le’an

Dan ketika hantaran hewan kurban selesai diantar ke rumah adat masing-masing suku, masyarakat atau ribu ratu diberi kesempatan untuk makan ataupun sekedar menyulut rokok sebatang bagi pria ataupun menguyah sirih pinang bagi kaum perempuan sembari menunggu ritual pemotongan hewan sebagai puncak ritual Ahik Le’a. Menariknya, pemotongan hewan dari masing-masing suku, harus diawali dengan pemotongan 2 hewan kurban masing-masing diatas bumbungan atap koke bale dan rumah adat kabelen, oleh beberapa orang yang dipercayakan ata kabelen raya. Sedang Ribu ratu menunggu di bawah halaman sekitar koke dengan beragam ekspresi, tegang, cemas pun mengiringi langkah kaki para pemuda kampung menaiki atap masing-masing sembari membopong hewan kurban. Namun berbeda dengan mereka para pelaku ritual pemotongan hewan diatas bumbungan, tidak ada keraguan sedikitpun yang terpancar dari wajah mereka terbukti sekali tebas, darah hewan kurban pun mengalir deras di atas atap dualangotersebut. Dan selanjutnya, ritual ini pun dilanjutkan dengan ritus Cahyo tuak atau te’bo tuak yang mana tuak yang disimpan di sebuah kumbang besar dituangkan di atas nama oleh para pembesar suku setelah sebelumnya menyanyikan lagu dalam bahasa adat setempat.Nama yang sedari ramai manusia, perlahan-lahan dijauhi oleh kaki anak negeri, pertanda ritus selanjutnya siap dilaksanakan dan ritus tersebut adalah pemotongan semua hewan kurban ataueba wolayang telah dibawa masuk oleh setiap utusan suku yang ada. Gembira, kagum, diselilingi gelak tawa mengiringi pemotongan hewan tersebut sementara penabu gong gendang tanpa henti-hentinyamenabuh dua alat musik khas lamholot tersebut menyemangati para pemotong hewan.“Ketika selesai dipotong kepalanya harus dibawah pulang ke suku masing-masing (kla’e) setelah itu rahang dari hewan itu dibersihkan kemudian digantung di pelataran koke atau istilahnya ahik koke atau hari raya koke,” ungkap Muslimin Sanga Lein.Sementara daging hewan-hewan tersebut yang telah dikumpulkan di rumah suku akan dibagikan kepada semua yang hadir sesuai dengan hitungan anak laki-laki dalam suku, tanpa lupa mereka-mereka yang sedang berada diluar daerah. Dan tentunya inilah hal yang membuat mereka terlihat begitu dekat satu dengan yang lainnya, walaupun tidak harus dengan bertatapan muka karena bagi mereka ikatan persaudaraan itu hanya dilihat dalam aliran darah, darah yang mencintai lewo lamen lama dike, tana tukan wai lolon.

Kampung Lama, Kental Akan Sejarah Budaya

Kekhasan peninggalan sejarah nenek moyang dan leluhur begitu kental terlihat bukan saja pada beberapa ritual yang telah disebutkan tadi sebagai bagian dari rangkaian Ahik Le’an Koke tetapi juga diperkuat dengan bentuk rumah adat yang masih terlihat kuno, natural dan namun kaya makna tersebut. Beratapkan ilalang, dengan dinding dari keneka dan bertiangkan bambu membuatnya begitu dicintai apalagi dengan beragam aksesoris mewakili masing-masing suku yang berdiam di daerah tersebut, tentunya membuat para pengunjungnya terpikat. Apalagi pengunjung akan kembali disuguhkan dengan deretan batu-batu ceper khas daerah tersebut yang disusun sedemikian rapinya sehingga wilayah kampung lama semakin indah. Dan Lima rumah yang berderet tersebut mengelilingikokedi tengahnya adalah perwujudan nyata kekuatan lewo tersebut dan tentunya mewakili lima suku yang mendiami kampung tersebut diantaranya suku Lein, Kabelen, Aran, Maran dan Werang. Dan kelima suku tersebut, kata para informan, memiliki gandengannya masing-masing seperti terlihat pada suku Lein yang punya gandengan dengannama, suku Lewo Aran dengan kopong raja mau u’e merik(batu dengan penyanggah dibawahnya), suku Kabelen dengan Koke ini, suku Ata Maran atau suku ura wai dipercayakan sebagai suku yang mendatangkan hujan saat masyrakat membutuhkannya, sedangkan suku Werang dan Lewo Aran, menjadi penghuni yang berasal dari gunung.

*Penulis adalah Koordinator Komunitas Wisata Menulis (KWM) Flotim-082359259635

Friday, February 24, 2017

Perginya Sang Lentera Dari Timur

(Puisi Mengenang Gerson Poyk)

Tak banyak yang mengenalmu,
tidak juga buku ini.
Karyamu seolah hilang ditelan zaman,  menguap dalam dekapan sang waktu yang terus bergulir tanpa henti
hingga banyak orang menjadi lupa.
lupa siapa kamu, Gerson Poyk
Juga karyamu yang begitu menghentakkan jiwa
hingga raga ini harus diajak melalangbuana mengintari sisi lain pikiranmu dan menembus zona perbedaan.
Perbedaan itu yang membedakanmu dengan sastrawan lainnya,
menjadikanmu kebanggaaan bagi kami orang timur.
Cahaya lentera pun semakin benderang mewakili ketimuran kami
hingga..
ragamu menua dan maut menjemputmu.
Iya.. Zamanmu boleh berlalu cepat
namun tidak tuk karyamu,
tidak juga katamu yang menjadi kalimat yang akan selalu abadi selamanya.
Selamat jalan sang pujangga dan lentera dari timur, tenanglah di Rumah sang khalik dan biarkan karyamu menjadi teman bagi kami tuk mengenalmu lebih dekat.

Wtb 24/2

Saturday, December 31, 2016

Selamat tinggal 2016


(Refleksi akhir tahun)

2016 dengan banyak cerita telah kulalui dengan baik. Suka dan duka, tawa dan tangis mengiringi langkah pijak diriku di dunia mencerna semua problematika hidup dengan semua yang kumiliki walaupun mimpi tinggiku tuk menggapai apa yang amat kurindukan urung dilaksanakan tapi ku masih percaya bahwasanya hidupku adalah garis tangan sang khalik dan tidak bisa kubuat menjadi sulit saat semuanya sudah digariskan kepadaku. Aku hanya bisa menjalaninya saja, dengan sedikit dorongan dan semangat yang lebih baik dari hari, bulan dan tahun yang sebelumnya. Iya semangatlah yang mampukan aku tetap ada di antara sekian pencapaian ini, mengubah yang sulit menjadi mudah, membungkam mulut dan kerlingan mata tanda sinis para manusia yang seakan belum puas dengan yang dimilikinya dan menganggap dirinya paling suci di jagat raya ini. Argh...itulah hidup tak baik jika semuanya baik adanya  perlulah adanya yang kurang baik sebagai motivasi tak akan kuambil pusing, dan tak mau kudengar ocehan mereka karena bagiku hidup tak perlu sempurna, baik pun sudah cukup toh aku hidup bukan untuk menyenangkan mereka tapi mau belajar menjadi manusia yang sesungguhnya, belajar dari mereka yang kuyakini mampu mengubah tatanan hidup menjadi lebih baik. Ini prinsip dan bukan sok suci, ini refleksi akhirku tuk menyambut akhir tahun yang telah kujalani dengan susah payah hingga bertahan di detik ini walaupun kutahu pasti tanpa kuberkatapun kaki dan tanganku ini masih terus melangkah menyusuri lorong gelap kehidupan yang belum kutahu kapan ujungnya. Hati dan pikiranku semua yang kumiliki telah kupatrikan pada Dia dan biarkan Dia yang kuyakini menuntunku melangkah sampai kutemukan siapa aku di dunia. Dan kuakhiri semua tulisan ini dengan sebuah kalimat sederhana sebagai kata penyambut tahun baru "Aku Tetap Disini, Dan Akan Terus Disini, Tanpa Harus Kuberlari Jauh Meninggalkan Yang Telah Disiapkan Bagiku. Aku Masih Bisa dan Akan Selalu Bisa Karena Tuhan Mencintaiku Dalam Diam-Nya,"

Wtbl 31 desember 2016

Wednesday, November 30, 2016

Inspirasiku

Inspirasiku

Malam memang akan pergi,
berganti dengan terangnya mentari,
memangkas hati dalam duka,
Menyayat sembilu dalam diam.
Lalu,
semua berubah dalam sekejap,
Sang inspirasi hadir diantara duka itu,
memberi warna baru, nan berbeda
menghardik kacaunya batin dengan jiwa kuatnya
memberi semangat dalam patahnya harapanku
Dan dia sang inspirasiku, hadir saat jiwa dan tubuh butuh sandaran, butuh penopang yg patah.
Dan dia inspirasiku...

Wtbl-3011

Tuesday, November 29, 2016

Karena Kamu

Karena Kamu

Karena kamu,
kutemukan artinya cinta.
Karena kamu,
cinta itu lebih bermakna, 
dan karena kamu
cinta itu menjadi lebih sakit dari yang seharusnya.
Karena kamu, buatku percaya
percaya, cinta tidak selama manis seperti yang dipikirkan, 
menyeret pada sebuah keniscayaan yang sia-sia.
Berjuang pada hal penting namun luput pada hati.
Karena kamu, harapan kembali terus kujaga hingga saat ini tuk perbaiki yang salah, dan mengembalikan cinta yang pergi.
Semua karena Kamu.

Wtbl-3011

Sunday, January 10, 2016

Panti Asuhan Acamister Duli Anan, Dilupakan Tetapi Masih Berjuang Untuk Kaum Difabel

Panti Asuhan Acamister Duli Anan terletak di Desa Watowiti-Kecamatan Ilemandiri, kurang lebih 5 km dari arah timur kota Larantuka. Di panti inilah hidup 32 anak difabel total ganda berat dibawah asuhan Arnoldo Dominiko Duli Uran bersama istri, meniti hidup, berjuang dengan senyum, mencoba membalikkan stigma dilupakan tetapi tidak melupakan. Iya, mereka yang terlahir dari rahim yang berbeda dibekali Tuhan dengan keterbatasan fisik dan mental, hidup dengan latar belakang daerah yang tak sama seperti Flotim, Adonara, Lembata, Sikka, Ende dan Ngada tetapi masih terus berjuang bersama ditengah himpitan ekonomi yang tidak lagi memungkinkan, namun mampu memberikan pembelajaran bagi banyak orang bahwa hidup memang patut untuk disyukuri. Lahir Dari Keprihatinan, Memukul Stigma Negatif Masyarakat Pengelola Panti Asuhan Acamister Duli Anan, Arnoldo Dominiko Duli belum lama ini mengatakan.
, keprihatinan kepada anak-anak difabellah yang mendorongnya membangun panti Acamister Duli Onan tersebut pada medio 2012 silam, disamping pengalaman hidup sang mantan biarawan ini akan kematian 3 saudaranya yang juga menderita difabel. “Kepedulian saya lahir dari dulu, untuk hidup dengan orang-orang ataupun anak yang menyandang masalah sosial seperti ini sejak saya masih di biara, bekerja di kantor Wali Gereja-Maumere setelah keluar dari Biara, maupun saat menjadi Anggota DPRD Kab. Sikka. Dari waktu ke waktu, saya merefleksikan, sebenarnya bukan hal baru bagi saya, karena dalam keluarga saya sendiri ada tiga saudara dari sembilan saudara/i saya juga menderita divabel berat dan pada akhirnya meninggal,” kisahnya pilu. Pengalaman tersebut bukanlah satu-satunya pendorong bagi pria asal Lewoawang-Kecamatan Ilebura untuk kemudian mendirikan Panti Acamister, pengalaman sosial masyarakatpun tuturnya amat mempengaruhinya dirinya untuk berani mendirikan sebuah rumah sederhana bagi kaum difabel tersebut,sebagai bentuk protes, dan kemarahan bagi mereka yang menyepelehkan anak-anak yang cacat mental dan fisik. 
“Panti ini adalah bentuk protes, marah saya terhadap orang-orang yang menolak anak divabel, yang dulunya beranggapan cacat itu memalukan, menghina keluarga, kotor, menghambat, dan memalukan. Dan lebih menyakitkan pada tahun 2005 itu, saya melakukan kunjungan pribadi ke Flores Timur di beberapa panti, dan menemukan kenyataan pahit bahwa kebanyakan panti disini (Flotim) hanya bisa menerima anak cacat yang bisa tolong diri, dan bukannya menerima anak cacat yag tidak bisa tolong diri,” kenangnya. “Bagi saya, panti ini adalah alternatif untuk menerima anak-anak yang tidak diurus dan tidak diterima orang lain,” kata Arnoldo lagi.

Menolong Tapi Enggan Meminta Ditolong    

Namun demikian, demi mewujudkan impian mulianya, banyak hal yang harus dikorbankan Arnoldo walaupun itu adalah sesuatu yang diraihnya dengan perjuangan, iya, kekayaan dan kedudukan sebagai mantan Anggota DPRD dilepasnya demi membantu mereka yang terpinggirkan, dilupakan bahkan dianggap sebagai penyakit masyarakat. Di tanah seluas 10x20 meter, di sudut kota Larantuka, ia bersama istrinya kemudian membangun beberapa gedung hunian sederhana yang disebutnya bagian barat, timur, dan atas, yang dananya berasal dari swadaya pribadi, bantuan perseorangan, lembaga bank, dan pemerintah serta DPRD namun mampu menampung 32 anak asuhnya, bersama para pengasuhnya yang senantiasa bekerja tanpa harus digaji, semuanya dengan kerelaan memberi dan peduli pada nasib anak-anak difabel. 
“Syukur karena bagian timur sudah bisa kita tinggal walaupun belum selesai tetapi sudah nyaman sedikit. Sedangkan di bagian barat harus dibangun sambung karena nanti bulan barat akan semakin parah, dan kami sedang merencanakan pembangunan lanjutan karena ruangan di bagian atas itu tidak terlalu memungkinkan lagi,” katanya penuh harap.
 “Kebanyakan mereka (anak-anak) ada di gedung bagian atas yang ukurannya 5x9 meter, malah ada satu tempat tidur harus menampung 2-3 anak dengan tempat tidur baru 6 dan disesuaikan dengan ukuran bangunannya” katanya. Bangunan-bangunan tersebut, akunya memang belumlah layak namun, dirinya percaya dirinya masih punya seribu satu cara untuk menghidupinya walaupun kadang permohonan mereka sejauh ini enggan dijawab pemerintah, malah dirinya menyesal banyak yang kemudian mengambil keuntungan dengan kenyataan yang mereka miliki. 
“Kadang mereka beri bantuan 2 dos mie, suruh kami tanda tangan 5 dos, bawa beras 100 kg suruh kami tanda tangan 150 kg. Saya tidak mau, sampai sekarang. Dan ketika mereka panggil saya ke sana tuk pertemuan, saya menolaknya karena kondisi kami ini terang, jelas, semua tahu tetapi buat apa pertemuan terus tanpa ada kejelasan,” sesalnya. Untuk itu dirinya, tidak terlalu berharap banyak walaupun dirinya membutuhkan karena baginya memberi dengan tulus dan ikhlas adalah sebuah hal yang sudah seharusnya bukannya menjadikan kesulitan mereka sebagai sebuah “berkat” bagi orang lain.
 “Ini demi anak-anak ini, masa depan mereka masih panjang jangan membuat mereka putus asa, jangan buat senyum mereka sirna karena ulah kita. Mereka sama dengan kita, walaupun fisik dan mental mereka tidak sama. Dengan mereka, kerajaan Allah sungguh ada,” pesannya. 
“Kalau sebentar pulang, bawa pulang semua barang bawaan anda, hanya satu yang harus anda tinggalkan yakni hatimu. Pergi dan sampaikan kepada dunia bahwa disini sedang dibangun kerajaan surga serta pergi dan berdoalah kepada dunia supaya dunia tahu bahwa yang empunya kerajaan surga ini adalah mereka yang tidur-tidur itu,” pesannya lagi. 

DPRD Siap Dorong Perda Perlindungan Kaum Difabel  

Bak bersambut, harapan Arnoldo pun ditanggapi serius DPRD melalui Badan Legislasi Flotim yang juga melihat lemahnya perhatian pemerintah terhadap kaum difabel di Flotim, dengan membuat Perda tentang perlindungan kaum difabel di kabupaten Flotim dalam pembahasan dan ditetapkan DPRD dalam sidang berikutnya setelah sebelumnnya melakukan kajian ilmiah dari aspek yuridis, filosofis dan sosiologis. 
“Perda ini sebagai solusi fundamental terhadap maslah yang dialami kaum difabel selama ini. Perda ini mewajibkan Pemda untuk memperhatikan kaum difabel secara kontinue berupa bantuan dana dari APBD untuk kepentingan pangan, papan, sandang, pendidikan, kesehatan untuk masa depan mereka layaknya manusia normal lainnya,” kata ketua Badan Legislasi Agustinus Payong Boli, mewakili rekannya di badan Legislasi DPRD Flotim kepada beberapa waktu lalu di Balai Gelekat Flotim. Niatan ini tutur Agus, telah didukung dengan beberapa pihak NGO seperti Delsos Keuskupan Larantuka dan hasil diskusi bersama teman-teman di Grup Suara Flotim demi misi kemanusian dengan melihat kenyataan pahit yang dialami Panti Asuhan Acamister Duli Onan sebagai rujukan panti yang dapat memberi spirit kemanusian yang lahir karena kepedulian atas harkat dan martabat kaum difabel. 
“Ke depannya siapapun Bupatinya wajib hukumnya memperhtikan kebutuhan primer dan sekunder kaum difabel dengan dana APBD secara rutin tiap tahun untuk kaum difabel di panti asuhan maupun di rumah-rumah,” ucapnya tegas. Naskah: Engky Keban 




Saturday, October 3, 2015

BUDAYA: DILUPAKAN ATAU TERSISIH




(Refleksi Atas Festival Seni Budaya Flotim)
*Frengky Keban
(Koordinator Komunitas Wisata Menulis-Flotim)


“Tanpa Manusia, budaya tidak ada, namun lebih penting dari itu, tanpa budaya, manusia tidak akan ada”
Demikian kata Cliford Geetz, Antropolog asal Amerika Serikat mengenai eksistensi budaya dan manusia. Sederhana, dan penuh makna. Iya manusia dan budaya tidak bisa dilepaskan satu dengan yang lainnya, walaupun bisa dibedakan bak mata uang yang memiliki dua sisi saling bersinggungan namun masih mampu untuk melengkapi. Dengan kata lain, budaya selalu mengiringi langkah hidup manusia, dan mampu menunjukkan eksistensi manusia itu sendiri. Betapa tidak, sejak manusia mengecap indahnya dunia diawal hidupnya, hingga ia kembali menutup mata mempertanggungjawabkan kinerja hidup kepada Sang Khalik, ia (manusia) sudah akrab dengan produk budaya seperti; tutur bahasa, nilai, norma, adat istiadat dll  yang berimbas pada perbedaan kepribadian yang dimilikinya tersebut.
Budaya sendiri secara etimologis, berasal dari bahasa sanskerta yakni Buddhi yang diartikan sebagai budi atau akal dan daya yang dapat dimaknai sebagai sebuah kekuatan, ataupun dorongan. Sehingga budaya secara sederhana dapatlah diartikan sebagai sebuah kekuatan, dorongan akal, budi manusia untuk menciptakan sesuatu. Dan jelas terlihat disini, bahwa untuk membuat atau menciptakan sesuatu seperti budaya tersebut, sudah barang tentu membutuhkan manusia karena seyogianya manusia adalah makhluk hidup yang dilengkapi dengan akal dan budi. Lebih dari itu, selain menciptakan, manusia pun mampu menjaga dan mewariskan apa yang diciptakan tersebut dengan komunikasi sebagai medianya. Manusia sedapat mungkin bisa menjadi penganut, pembawa, manipulator dan pencipta budaya itu. Dan tulisan ini hadir bukan untuk mengecam, ataupun membuat kita surut akan realitas pelik ini, namun mau membuat kita sadar kalau kita masih punya budaya yang layak untuk dibanggakan, dijaga dan dipertahankan.

Ada Apa Dengan Festival Budaya Flotim?
            Masyarakat Flores Timur sebagai sebagai sub kultur budaya Indonesia, yang dikenal dengan budaya lamaholot pun tidak pernah terlepas dari budaya itu sendiri, hal ini dapat terlihat dengan banyaknya produk seni budaya yang membuat Flotim kaya akan budaya hingga menyeret para pencinta seni budaya beramai-ramai hijrah sesaat di tana Flotim. Namun demikian, tidaklah disangsikan, acapkali banyak budaya lokal yang memuat kearifan lokal Flotim-Lamaholot mulai tergerus arus zaman. Gemohin misalnya, tidak lagi menjadi budaya turunan yang ‘mengasyikkan’di telinga kita lagi padahal gemohin adalah sebuah budaya turunan yang amat sangat identik dengan Lamaholot Flotim dan memberi nuansa indah diakhirnya. Hal ini pun berlaku juga ketika kita berbicara tentang seni budaya lain seperti tarian, karena terbukti banyak tarian di Flotim mulai kehilangan gairah kealamiannya akibat terisolir, dan terkontaminasi budaya modern yang mulai mewabah, sehingga banyak gerakannya tidak seiindah dulu. Mungkin inilah salah satu dari sekian banyak alasan yang mendorong Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Flotim di bawah kendali Andreas Ratu Kedang mengambil langkah berani menggelar Festival Seni Budaya Kabupaten Flotim ke-2 kalinya yang telah digelar Kamis (27/08) hingga Jumad (28/08) silam di Taman Kota.
            Festival yang diikuti 17 Kecamatan Minus Kecamatan Wotan Ulumado dan Kecamatan Wulanggitang adalah sebuah langkah untuk kembali memperkenalkan budaya Flotim yang kian hari kian didamprat oleh budaya kontemporer, dan memunculkan kembali yang dilupakan serta membuat khalayak yang hadir menginggat apa yang pernah mereka lihat, rasakan dengan berbagai seni budaya yang ditampilkan malam itu. Bukan hanya sekedar menentukan yang terbaik dari yang baik saja, dari semua penampilan yang rada spektakuler tersebut, ataupun sekedar menunjukkan bahwa Pemerintah melalui DISBUDPAR peduli tapi sekali lagi nilai seni budaya Lamaholot itu jauh melampaui batas siapa yang menang ataupun siapa yang pantas. Nilai seni budaya tidak ternilai maknanya.

Catatan Kritis Dibalik Festival Seni Budaya Flotim
Keberanian DISBUDPAR Flotim menggelar Festival Seni Budaya tentunya banyak diapresiasi banyak pencinta seni baik yang menonton langsung ataupun hanya sekedar membacanya di media surat kabar, namun demikian ada beberapa catatan penting yang menurut penulis wajib untuk diperhatikan, walaupun penulis sendiri tidak terlalu banyak memahami seni budaya itu sendiri karena penulis percaya tidak semua hal didunia ini baik adanya.
1.      Festival Seni Budaya Flotim: Pesta Orang Tua VS Kaum Muda
Sebagai Manusia yang berbudaya sudah barang tentu hukumnya untuk dapat mewariskan budaya leluhur kepada generasinya baik secara langsung maupun tidak langsung selain menciptakan budaya itu sendiri. Hematnya, Festival yang telah dan sudah digelar tersebut memiliki makna/pesan tersirat yang tidak tersampaikan bagi kaum tua untuk mulai berani berpikir untuk segera mewariskan seni budaya tersebut kepada mereka (kaum muda) yang sedang mulai kehilangan sendi nilai budaya Lamaholot. Rendahnya animo kaum muda dalam menyaksikan festival adalah indikator nyata kalau mereka terlampau apatis dengan seni budaya Lamaholot yang memiliki nilai tinggi tersebut, walaupun di sisi lain banyak sanggar yang pentas malam itu telah mulai memberi ruang khusus bagi kaum muda mengambil bagian di dalamnya. Tapi ingat, hanya dengan memberi ruang saja tidaklah cukup, karena banyak aspek kehidupan yang kemudian membuat mereka perlahan lupa akan budaya tersebut. Efeknya terlihat jelas, masih ada kecamatan-kecamatan di wilayah Flotim yang masih mempercayakan kaum tua untuk beraksi di atas panggung, memberikan yang mereka dapat dan yang dicintainya kepada para pencinta seni budaya Flotim. Apakah ini indikasi bahwa belum semua orang tua bisa menyalurkan ilmu seni budaya buat kaum muda ataukah kaum mudanya sendiri yang mulai emoh untuk siap mempelajari budaya leluhurnya. Mungkin.
2.      Festival Budaya Flotim: Pentas Rakyat, Wakil Rakyat atau Pemerintah.
Festival Budaya Flotim menyisahkan sedikit cerita yang mungkin membuat kita (rakyat) sedikit menggelengkan kepala dan menganggap ini adalah sebuah catatan yang sedikit ngawur, tapi festival malam itu bagi penulis tidaklah lengkap tanpa dihadiri para elit Pemerintahan dan wakil rakyat tentunya sebagai bagian dari budaya itu sendiri. Hematnya, budaya menembus perbedaan baik yang kaya miskin, tua muda, kota  desa, pejabat ataupun bukan, dan menembus sekat politik yang ada.  
Bukan persoalan siapa yang melaksanakan, bukan juga instansi apa tetapi bagaimana pelaksanaan festival yang pada akhirnya mendekatkan yang jauh, membuat negeri kita yang terlampau sibuk dengan urusan pelik politik yang tak berkesudahan guna mengatasi setiap persoalan yang terjadi selama ini menjadi sedikit adem ayem melalui lentikkan jemari, dan hentakkan kaki di atas panggung rakyat tersebut dengan tari dan cerita rakyat yang dikemas begitu indah. Festival ini akan terasa indah diakhirnya jika semua elemen rakyat Flotim mulai dari eksekutif, legislatif  melebur menjadi rakyat biasa, merasakan betapa nilai seni budaya itu bukanlah barang antik yang hanya punya orang tertentu (rakyat) tetapi juga punya semua orang termasuk kaum elit sendiri.
            Catatan-catatan tersebut, adalah sejumput cerita budaya kita, budaya hasil refleksi nenek moyang yang diwariskan buat kita hingga kini, membuat Flotim begitu dikenal seantero dunia sebagai pemilik sah budaya Lamaholot. Dan catatan ini, adalah sekedar refleksi humanis seorang anak tanah, yang tak terlalu paham apa itu seni budaya tetapi begitu mencintai Tanah ini, yang memberikan banyak dari ketidasempurnaannya yang dimiliki karena menjadi bangga ketika berada dalam lingkaran budaya yang membesarkannya. Sudah begitu, masihkah kita malu, untuk mengakui bahwa Budaya Lamaholot adalah budaya kita bersama? Karena tanpa budaya manusia akan kehilangan idealismenya.
*Biodata Penulis :
Tinggal               : Larantuka
Alamat Email     : engkykeban@gmail.com
Blog                    : arjunkeban@blogspot.com
No Hp                 : 082359259635


BUDAYA VANDALISME, BUDAYA TREND YANG MEWABAH



BUDAYA VANDALISME, BUDAYA TREND YANG MEWABAH

*Frengky Keban
(Pemerhati Sosial dan Budaya)

Budaya vandalisme kini begitu akrab dengan kaum muda mulai dengan anak sekolah hingga anak yang putus sekolah. Budaya ini begitu trend di zaman ini, zaman yang kata Iwan Fals merupakan zaman edan, betapa tidak kaum muda yang katanya memiliki pendidikan tidak lagi paham akan eksistensi dirinya sebagai agent of change dan agent of devolopment Negara tetapi menjadi bagian dari perusak tatanan kehidupan sosial yang ada. Vandalisme sendiri secara morfologis dibangun dari dua kata Vandal dan –isme, dimana vandal adalah perbuatan merusak hasil karya seni dan barang berharga lainnya dan jika di tambah dengan akhiran –isme maka jelas terlihat bahwa vandalisme merupakan paham yang merusak hasil karya seni dan barang berharga lainnya.
Vandalisme pun kini mulai mewabah menjadi sebuah budaya baru yang katanya pantas untuk ditiru oleh kawula muda bukan diluar Negeri saja tetapi di Negeri kita sendiri, bukan di Kota saja tetapi juga kampung-kampung hingga Kota Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur yang dikenal dengan Kota Renha pun tersulut dengan aksi serupa. Beberapa Sarana fasilitas umum Kabupaten seperti pasar, halte, tempat beribadatan, terminal contohnya, kini penuh dengan coretan anak-anak “Ema Bunda”, mulai dengan tulisan grafiti hingga tulisan ala kadarnya yang intinya menyimbolkan pribadi tertentu. Aksi yang demikian pun disemarakkan dengan aksi foto-foto setelahnya, alih-alih diunggah di media sosial sebagai bukti bahwa dirinya adalah anak gaul. Budaya ini pun seolah terorganisir secara baik, dituturkan ataupun diwariskan oleh mereka (kakak) kepada adiknya yang sedang berjuang menemukan jati diri diantara himpitan dunia yang semakin edan tentunya.
Keluarga sebagai pewaris nilai budaya pertama dan terutama pun mulai dipertanyakan perannya, begitu juga sekolah tempat anak menuntut ilmu, apalagi pihak Pemerintah dan pihak keamanan. Dan tulisan ini muncul bukan untuk dijadikan bahan rujukan untuk kemudian membuat mereka yang disebutkan diatas menjadi salah, namun menjadi sebuah tulisan reflektif humanis kita untuk dapat memberikan kotrol sosial buat mereka (para pelajar, maupun non pelajar) agar tidak terjebak ke dalam ruang yang serba edan tersebut.

Ada apa dengan Kaum Muda Kita?
Pertanyaan ini adalah awal bagi kita untuk untuk dapat melihat seperti apa dan bagaimana kaum muda kita dewasa ini hingga terjebak pada krisis identitas. Kaum muda seturut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai orang yang belum cukup umur. Namun demikian pengertian ini pun menjadi sedikit rancu ketika tidak ada batasan umur untuk membedakan kaum muda dengan kaum lainnya maka penulis pun kemudian secara gamblang menentukan batasan sendiri yang lazim digunakan oleh kebanyakan orang untuk menyebut kaum muda yakni dari umur 18-23 tahun. Kisaran umur yang demikianlah yang kadang membuat kita kerap menyebut kaum muda sebagai kaum transisi yang bergerak dari periode pertumbuhan pubertas dan kematangan atau dengan kata lain seturut Erik H. Erikson sedang mencari identitas diri mereka. Masa ini juga menuntut kaum muda untuk terjun bebas dalam riak kenakalan remaja yang lahir dari “Strum (dorongan) und Drag (keinginan)” mengejar, membuat dan menciptakan dunia mereka sendiri tanpa berpatokkan pada nilai, norma, adat istiadat, budaya yang berlaku di masyarakat.
Boleh jadi, usia yang terlampau muda atau belum cukup umur alias belum dewasa yang dikemukakan terdahulu menyeret mereka untuk cepat meniru budaya trend dibelahan dunia lain, seperti vandalisme ini, apalagi kita sebagai orang timur amat kental dengan budaya meniru alias imitasi. Celana umpan, foto selfie adalah cerita lain yang dapat penulis masukan untuk memperkuat argumen penulis kalau budaya imitasi juga kental melekat di bumi Lamaholot tercinta ini. Ataukah mungkin, peran senior dan junior memang sudah terbentuk sejak anak kita, adik kita duduk di bangku sekolah dasar namun belum sepenuhnya disadari dan baru dirasakan ketika mereka benar-benar menjadi seorang Mahasiwa/i? Karena geliat vandalisme yang kerap terjadi di tanahku, tanah mereka, dan tanah kita ini pun dapat terjadi karena efek tersebut. Tidak percaya, tengoklah bagaimana kelompok/ grup geng di sekolah bersaing dengan grup/kelompok lainnya ketika merekrut anggota baru.  Anggota baru sedianya harus diseleksi terlebih dahulu dengan percobaan atau semacamnya yang intinya mengukur mental si anak baru sebelum masuk dalam in grup tersebut. Salah satunya dengan menorehkan namanya di tembok fasilitas umum biar dikenal seperti para pendahulunya. Sudah begitu, apa yang mau dikata, kaum muda kita yang tadinya polos berubah jadi buas, dan beringas walaupun di keluarga dicap sebagai anak alim.
Kaum Muda: Bagaimana Seharusnya?
Pertanyaan ini harusnya dapat dijawab dengan berbagai versi jawaban dan penulis pun menelurkan sedikit dari sekian banyak jawaban sekedar memberikan pencerahan kalau-kalau pembaca mulai lupa, atau engggan mengingat kaum muda masih tanggung jawab kita karena seyogianya kita pernah berada pada posisi mereka walaupun cerita kita berbeda dengan mereka.
Pendidikan tentunya harus menjadi yang pertama dan terutama, menjadi modal  mencapai kesuksesan di hari mendatang. Hal ini tentunya, patut disadari dan disyukuri oleh kaum muda Flotim, bahwa jarang dan bahkan sedikit sekali orang tua yang mampu menyekolahkan anaknya saat ekonomi mereka pas-pasan, sehingga wajib untuk dipergunakan kesempatan ini sebaik mungkin dengan memberikan yang terbaik kepada mereka yang telah memberikan kita kepercayaan itu, karena kata orang kepercayaan itu mahal. Tidak butuh menjadi orang pintar, cerdas, atau apapun itu, cukup memperoleh nilai yang baik, bagus dan ilmu yang mumpuni kita dapat dikatakan sukses apalagi dibarengi dengan etika, tata krama yang baik, percaya atau tidak kita telah selangkah lebih maju dibanding orang lain. Daripada coret-coret di tembok, lebih baik coretlah pendidikanmu dengan tinta keberhasilan.
Kaum muda juga, harus mulai berani untuk katakan tidak bagi setiap perilaku yang menyimpang seperti vandalisme ini ataupun perilaku lain sebelum dijebak ataupun terjebak, karena semua harus dimulai dari diri sendiri. Jika tidak, apalah artinya jika suara hati yang menemani dan tertanam dalam pribadi kita tidak kita gunakan untuk menepis setiap gelombang hasutan dan ajakan untuk berbuat sesat.
Selain itu, penuhi harimu dengan kegiatan-kegiatan ekstrakuler yang dapat memberi efek positif dalam pengembangan karakter diri mulai dari kognitif, konasi dan afektif seperti pramuka, osis, komunitas budaya, pencinta ala dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan tersebut, walaupun hanya sesaat namun memberikan nilai tambah bagi kaum muda Flotim di dunia kerja dengan menghasilkan figur-figur anak-anak Flotim yang berkarater kuat, mapan dan mandiri baik di dalam Flotim maupun di luar Flotim.
Hal-hal tersebut diatas, bukanlah satu-satu jalan keluar, dan bukan juga panasea mengobati luka terhadap harapan kita kepada Kaum Muda Flotim, ia hanya sebagaian dari banyak jalan keluar yang bisa diambil untuk menyelamatkan generasi saat ini yang terjebang di dalam budaya vandalisme yang kian mewabah bak virus yang amat susah disembuhkan. Sekali lagi, penulis bukan mau menggurui ataupun membawa fenomena ini sebagai penghakiman atas diri kaum muda tapi ini hanyalah sebuah tugas sebagai salah satu kaum muda Flotim yang tidak menginginkan teman, saudara, adik-adiknya terlampau melangkah hingga lupa kalau mereka juga bagian dari diriku untuk menyempurnakan puzzle menuju Flotim yang damai, aman dan tertib. Jangan biarkan diri kita sakit, kalau bisa diobati, kalaupun sulit, janganlah berlari terlalu kencang karena di depan anda banyak duri yang hanya bisa dilewati saat kita bersama. Kita satu untuk Flotim.
 *Biodata Penulis :
Tinggal               : Larantuka
Alamat Email     : engkykeban@gmail.com
Blog                    : arjunkeban@blogspot.com
No Hp                 : 082359259635

Saturday, September 5, 2015

Wu’u Nuran, Ritual Adat Masyarakat Balawelin

Solor Watan Lema, begitulah ia disapa. Pulau seberang Larantuka dengan aneka cerita sejarah kekatolikkan zamannya membuatnya ia dikenal hampir seantero dunia, dengan kepulauan Solor tentunya (pulau Solor, Adonara dan Lembata) yang tidak lagi dipakai di peta zaman ini, dan meninggalkan reruntuhan benteng Lohayong sebagai saksi bisu bahwa Solor yang dulu punya nama dan yang tertinggal hanyalah budaya turunan yang hingga saat ini masih bertahan di atas tanah gersang milik Nenek moyang, salah satunya ritual adat wu’u nuran atau perayaan syukur atas panen pada masyarakat suku bangsa Balawelin di Solor Barat yang diadakan selama tiga hari secara beurutan.
Masyarakat Balawelin sebagai sebuah suku bangsa yang terdiri dari satu Lewo dan tujuh Duli (Kampung Filial) dibelahan barat Solor yang gersang, sarat dengan kekurangan di hampir semua aspek kehidupan hampir dilupakan, dan dipinggirkan hingga adium “Solor Nara Take” pun sempat membuat cerita mereka terkikis oleh aura zaman yang kejam. Dan Wu’u Nuran menjadi sebuah langkah menuju proses belajar bagi mereka diluar bahwa kegersangan tanah yang dimiliki orang Solor umumnya, dan di wilayah Balawelin disyukuri sebagai bentuk penghormatan kepada Bapa Kelake Lera Wulan, Ema Kewae Tana Ekan, dan leluhur lewotana yang telah memberikan mereka hidup. Dan Setelah lima tahun berlalu, Ritual Adat Wu’u Nuran kembali digelar dengan nuansa yang berbeda dari sebelumnya yang dimulai dengan seminar sehari Peta Eta Poa Oa atau pembukaan kebun baru dengan menghadirkan pembicara.. untuk bersama bersinergi membangun Balawelin bersama.
Uma Lamak Buka Ritus Wu'u Nuran
Pengataran Uma Lamak dari Lewo Bala Lama Harun Tana Harun Lama Dike

Siang itu ( 04/07/2015) ditemani teriknya mentari, mengantar masyarakat Balawelin yang bermayoritas petani dan beragama Katolik ini pun berbondong-bondong menuju rumah adat suku-suku besar atau Semata Pa (Niron-Maran, Niron-Hurit, Keban-Koten, dan Keban-Kelen) guna menggelar Ritus U’ma Lamak atau ritus pengantaran bagian ke Rumah Adat Suku Balawelin (Lango Belen) tempat dimana Bapa Lewo Ema Tana atau Tuan Tana berdiam dan dipercayakan sebagai kepala suku Masyarakat Balawelin. Dalam Ritus U’ma Lamak tersebut, menurut penuturan kepala suku Keban Koten, Yohanes Olamudi Keban, biasanya diawali dengan proses pemanggilan dari utusan Niron yang biasa dikenal dengan Niron Alan Jati ke masing-masing duli dan Lewo sembari mengantar mereka mengantar U’ma Lamak ke Lango Belen yang diiringi dengan tarian We’de yang dimaknai sebagai tarian kegemeriahan dan kegembiraan. Sejatinya dalam ritus ini, U’ma Lamak yang disiapkan antara lain beras, hewan dan lain sebagainya dan Lewo yakni Lewo Bala Lama Harun Tana Harun Lama Dike (Lamalewo) diberi kesempatan untuk memasukkan bagiannya terlebih dahulu sebagai kampung induk suku Bangsa Balawelin, setelahnya barulah diikuti oleh tujuh duli lainnya yakni, Duli Weruin Ulu Lau Pali Keneli Lima Wana/ Duli Taliha Laman Mayan Pali Mayan Lama Tali (Lamateliha), Duli Muda Lama Tulun Pali Bao Lama Banga (Lamariang), Duli Week Lama Rebon Pali Kenila Lolon Gire (Kenila), Duli Laka Lama Mayan Pali Mayan Lama Tali (Lamalaka), Duli Rita Lolon Eban Palin Bao Lolon Owa (Ritaebang), Duli Lupan Lolon Kuman Pali Au Gatan Matan (Auglaran), Duli Sunge Hara Wewan Pali Kadila Duru Basa (Riangsunge). Setelah ritus U’ma Lamak, masyarakat setempat ataupun pengujung dapat kembali ke rumah masing-masing beristirahat sejenak, ataupun menghisap rokok sebatang melepas lelah seharian, sembari menunggu ritus keesokkan harinya.
Renha Balawelin: Bukti Kesetiaan Masyarakat
Renha Balawelin 

Mentari pagi pun mulai menunjukkan kuasanya ditemani sang Jago yang tak mau kalah dengan kokokannya, sekedar membangunkan istrirahat para penghuni tanah Leluhur ini, serta menginggatkan bahwa hari ini masih ada ritus yang harus dilalui, yang penting bagi hidup sebagai pembuktian bahwa ada sisi lain dari budaya dan agama yang bisa saling melengkapi dalam Misa Inkulturasi di Kapela Maria Renha Balawelin di Kampung lama. Perjalanan sejauh 2 kilo bukan halangan, bagi mereka yang melangkah dengan semangatnya melewati hutan dan bebatuan di atas tanah gersang yang ditumbuhi puluhan pohon yang selama ini menjadi penunjang hidup masyarakat Balawelin. Tergopoh-gopoh dengan nafas tersengal menjadi buah dari perjalanan ini, namun di titik tertentu kekaguman pun melanda benak mereka yang hadir karena kapela mini yang tadinya menjadi tujuan, berdiri kokoh sosok Ibu nan cantik dibalut sarung adat ditemani sebuah tongkat yang bagi Masyarakat setempat diakui sebagai pelindungnya yang berdiam di kapel kecil dikelilingi lukisan-lukisan kecil suku-suku Dan ini pun menjadi jawaban atas serpihan sejarah yang tertinggal di Bumi Lamaholot bahwa bukan hanya satu Bunda Maria Renha yang ada di tana Larantukan tapi juga masih ada di pelosok Negeri yang kering tersebut yakni Bunda Maria Renha Balawelin yang menurut sejarahnya diserahkan oleh mendiang raja Larantuka kepada masyarakat setempat 55 tahun silam sebagai simbol kekeluargaan dan keakraban antara kerajaan Larantuka dengan masyarakat setempat. Nuansa budaya kental pun mengiringi kegembiraan rohani kita, saat melihat empat buah rumah kecil dengan atap alang-alang yang dipakai Semata Pa atau fungsionaris adat masyarakat Balawelin untuk melakukan ritual adat di kampung lama tersebut atau pun sekedar memberi makan Leluhur lewotana yang mendiami kampung tersebut. Nyanyian dan tarian adat menyemarakkan Misa Inkulturasi yang dipimpin oleh Pater Alfons Hayon, SVD, bersama belasan imam yang turut ambil bagian dalam perayaan syukur tersebut sembari sekali-kali tersenyum dan takjub akan sebuah realitas akan hidup bersama masyarakat Balawelin yang masih menjaga budayanya di tengah himpitan kegaulan dunia modernisasi ini.  Nuansa kental, budaya pun mengemuka kembali saat sang protokoler Ambros Niron, mengundang Bapa Lewo, Ema Tana melakukan ritual tutup kampung yang diakhiri dengan pemotongan hewan kurban di bawah Nuba dan selanjutnya kepala hewan tersebut dijadikan persembahan dalam ekaristi tersebut. Menarik, penuh cerita, dan membuat alam sadar kita berdecak kagum tentunya dan membuat kaki-kaki para peziarah atau umat yang hadir berani melangkah kembali menuju pelataran Lango Bele Suku Balawelin mengikuti ritus Belo Wuli atau pemotongan leher hewan yang menjadi persembahan Lewo dan masing-masing Duli. Keheningan membuncah, ditengah semarak ritus tersebut, dibarengi dengan lampu cahaya kamera segala jenis meliputi tenda yang menutup wajah letih para empunya pemilik sah ritual Wu’u Nuran dari sengatan mentari yang kian menjauh di ufuk barat, ditambah lagi dengan pekikan hewan kurban yang akan dieksekusi sebagai persembahan kepada sang pemilik kehidupan bersama para leluhur yang senantiasa menjaga Lewo ini.
Bau Baku: Caca Jiwa Yang Terjaga
Bau Baku di Rumah Suku Keban-Kelen

Dan cerita lima tahunan ini, tidak akan berhenti sebelum ritus puncak Bau Baku atau meletakkan nasi ke dalam bakul besar sesuai dengan hitungan anak laki-laki terwujud pada keesokkan harinya, di rumah suku masing-masing. Perempuan yang sedari kemarin tidak terlampau sibuk, kini menjadi figur yang amat sibuk dalam ritus ini dan diuji kemapanannya mengelola suasana ketika semua orang mulai letih kaki dan tangannya. Iya..perempuan memasak dengan peluh keringat di dapur sederhana, melawan asap kayu bakar di tunggu beralaskan batu seadanya, berharap masakan nasinya cukup bagi laki-laki di suku masing-masing. Sedang laki-laki suku bekerja di luar rumah menyiapkan Maga atau wadah besar tempat menaruh bakul-bakul yang sudah disiapkan, sembari meneguk arak atau tuak dan ditemani sebatang rokok membuat suasana terlampau indah apalagi wu’u nuran dijadikan ajang bertemu, saling sapa, dan tentunya kembali mengakrabkan diri antar anak suku setelah sekian lama terpisah akibat kesibukkan masing-masing.
Proses Pengantaraan Bau Baku

Dan diseberang sana, sesosok laki-laki dengan sebilah kayu jati atau dikenal Niron Alan Jati atau utusan Bapa Lewo Ema Tana, berjalan mendatangi rumah adat suku satu ke rumah adat suku lainnya, memberi isyarat kalau-kalau Bau Baku yang sudah dipersiapkan suku masing-masing siap diantar memasuki Lango Bele. Dan kemeriahan tak bisa ditolak, dengan selendang ataupun dedauan pengganti selendang menjadi warna tersendiri saat pengantaran Bau Baku tersebut sembari terus menari, tanpa mengenal dia anak-anak, remaja dan orang tua, semuanya tak habis-habisnya bersorak menyatakan syukur dan kemeriahan atas hasil panen tahun ini. Sedang, di pelataran Lango Bele berjubel manusia menunggu kedatangan masing-masing suku mengantar Bau Bakunya sembari bersama bersorak menyambut keluarga mereka dalam suku Balawelin. Kemeriahan ini sendiri ditutup dengan ritus makan bersama (reka lamak) pada malam harinya sebagai ujud kebersamaan tanpa melihat batasan tertentu, karena semuanya makan di atas tikar seadanya menutupi tanah pelataran Lango Bele dan itulah akhir cerita wu’u nuran di tahun ini, masih banyak cerita yang tersisa di tanah mereka yang gersang itu, banyak kisah dari tanah seberang yang terlupakan, namun masih punya rasa hormat buat pencipta dan penjaganya. Nuansa keagungannya belum habis terkikis, masih ada yang tersisa dan mereka terus menjaga diantara cerita sukses manusia modern. Itulah Mereka Bangsa Balawelin dengan Cerita Wu’u Nurannya.

 Penulis              : Frengky Keban (Koordinator Wisata Menulis-Flotim)
Tinggal               : Larantuka
Alamat Email     : engkykeban@gmail.com
Blog                    : arjunkeban@blogspot.com
No Hp                 : 082359259635
Tulisan ini pernah dimuat di website Dinas Pariwisata Prov. NTT



Larinya HRS, Bukti Kalau Dia Manusia

    Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan berita soal Habib Rizieq Shihab. Bukan soal pelanggaran protokol kesehatan saat tiba ...