Tuesday, January 30, 2018

Rindu II

Namamu Rindu,
iya Rindu, tepatri dalam jiwa,
didekap malam dan pagiku, 
menghantarku melanglang buana di negeri seribu satu mimpi,
membuatku lupa kalau Rindu hanya sementara
bersemayam dalam relung hatiku karena Rindu ini akan berganti nama secepat Rindu itu pergi..


wtb/FXBK

rindu 1

Sajak Rindu

Rindu berpeluh duka, menjelajahi raga yang kalut. Biarkan jiwa terlepas dalam ingin lalu tersentak pergi. 
Malam teriak dan terus berteriak
menakar yang belum sempat diraih
namun kaki tak bisa lagi melangkah 
dan tangan ini, aw sama saja tak mampu lagi berbuat.
Dan Rindu tetaplah rindu, 
berjalan seiring akhlak yang tak mampu menjawab, 
mengikuti hati yang sudah terlebih dahulu beranjak dari singgasana kenyamaan 
dan meninggalkan luka di sisinya.
Aw...rindu akan tetap rindu, 
rindu yang tak bisa tergantikan walau hari tak lagi sama, dan bulan telah berganti nama. 
Dan rindu itupun masih ada, kemarin, hari ini dan di masa yang akan datang.
#SelamatMenikmatiHidupmu

Sajak Pengantar Mimpi

Kutulis kisahku saat semua yang kuharapkan tak lagi sama, 
seperti awan pada langit, bunga pada tanah.
Rumit, dan tersisih
Mengundang tanya tapi minim jawaban, 
sia-sia dan lenyap.
Tinggalkan raga yang menyepi dan terus menyepi, 
menoleh pada kilas balik hidup namun pantang maju.
Mencoba bersuara pada titik ini, tapi lidah seolah keluh bercampur luka di dalamnya.
Semua pupus saat kamu bukan dia yang kucari...

#SajakPengantarMimpi"
wtb/FXBK

Sunday, January 28, 2018

CATATAN HIDUP YANG DILUPAKAN

Refleksi Tentang Malam


Salahku adalah membiarkan tangan ini melukiskan kisah di balik sisi hidup seorang yang mulai jengah dengan proses pembiaran akan makna dibalik realitas kehidupan yang terlipat oleh waktu. Dan Kutulis kisah ini saat aku tidak lagi bersama mereka yang senantiasa menjadi inspirasiku, tidak juga bersama kumpulan manusia yang senantiasa bercermin tentang ke-diri-an mereka yang tidak sempurna. Iya...hidup telah mengantar aku pada perbedaan ruang dan waktu, menyeretku pada pasungan keadaban hidup yang mulai berdiri menguasai sendi akhlakku dan menciptakan sebuah patron bahwa hidup adalah cerminan kegagalanku untuk menguasainya kembali.  Bagi kebanyakan mereka, aku hanya binatang jalanan yang mulai belajar untuk memaknai hidup dengan cara pandangku tanpa harus beriktiar untuk menganggap perbedaan sebagai sebuah keharusan untuk mencoba menjadi orang lain bagi mereka, aku tetap seperti yang dulu. Aku hanya tidak bisa membedakan sebuah cita-cita dan hayalan hingga aku terjerembab pada lubang keangkuhan walaupun keangkuhan ini tak lantas buatku melupakan siapa kalian, dan bagaimana kalian di mataku. Kalian tetap yang terbaik, aku hanya mau menjadi penting ketika orang yang kalian anggap penting mulai melupakan kalian. Aku memang binatang namun masih punya pikiran dan hati untuk melihat hidup ini sebagai sebuah proses belajar yang berbeda dengan pendidikan formal yang kujalani sejauh ini. Aku tetap seperti yang dulu dengan semua ceria yang kalian ajarkan, dengan tangis yang kalian berikan tuk bantuku berdiri sampai saat ini aku dapat menjadi manusia seutuhnya. Tanpa harus hidup dalam kepura-puraan yang semu, atau hanya sekedar menjadi penggembira ditengah kekalutan hidup ini karena hidup selalu punya makna keras diawal namun selalu lembut diakhit ceritanya sembari menunggu saat yang tepat untuk Tuhan mempertemukan kita kembali di titik yang sama walaupun di waktu yang berbeda.

wtb,28/1


Sunday, April 16, 2017

Sajak Buatmu Pemimpin

Secarik kertas usang tulisan tangan
aku, dia dan mereka wakili harap kami.
Iya..kami adalah pemilik negeri ini yang kadang ditipu, yang punya 'Tuan' tapi tidak pernah dituankan, malah hanya dijadikan hamba kepentingan dan hasrat semu, dipreteli dengan janji tanpa merasakan janji itu sendiri.
Surat usang ini kami layangkan saat kegerahan kami memuncak di alam pikir, tidak selaras dengan kerinduan akan janji, lantas menyeret kemauan tuk 'memberontak' sembari berharap pemimpin kami membaca serpihan luka dalam surat ini.
Bukan untuk mengubah apa yang sudah terjadi, atau pun membenarkan saat mata melihat yang tidak benar, tetapi hanya untuk menegur kalau kalau kami yang empunya negeri ini.
Kami masih berharap dan terus berharap, bukan tuk mau ditipu lagi, atau sekedar mau dikeyangkan dengan janji manis namun terasa pahit diakhirnya. Kami hanya meminta apa yang seharusnya dilakukan, dan bukan diharapkan, ataupun yang dirindukan karena kami menuntut yang ada bukan nanti tapi sekarang.
Surat usang ini, adalah cacatan semu, mungkin juga dinamika hidup kami sebagai 'rakyat' yang kata mereka punya kuasa lebih ketimbang penguasa tetapi terkadang kuasa kami dikerdilkan karena tidak punya posisi, jabatan dan uang. Ah..rumit, tetapi serumit ini kah hidup kami? atau memang begini nasib jadi rakyat? mungkin juga, yang pasti kami masih disini, masih ditempat yang sama tempat para leluhur kami mengajarkan kebenaran yang sesungguhnya sembari berharap lahirnya pemimpin baru dengan janji bukan membutakan tetapi menerangkan kegelapan kami.
#SajakTukPemimpin-TutupHari"

Friday, April 7, 2017

AHIK LE’AN KOKE: RITUAL ADAT YANG MENYATUKAN

(Fransiskus X. Bala Keban)*

Letaknya di selatan pulau Solor, diapiti dua desa yakni Bubu Atagamu dan Watanhura I, diperhadapkan dengan luasnya pantai selatan dengan busa putih gelombangnya yang memecah bebatuan dipinggir pantai, semakin menyemarakkan keindahan negeri itu. Desa Watanhura 2 atau lebih dikenal dengan desa Apelame namanya, desa kecil yang ditempuh kuranglebih 45 menit dengan kendaraan roda dua dari pelabuhan podor-Solor menyimpan cerita khas anak lewotana yang percaya dan begitu menghormati budayanya, hingga mampu menjaganya disaat budaya lokal mulai kehilangan jati dirinya. Dan ritual adat Ahik Le’an Koke atau Hari Raya Koke menjadi penegas betapa manusia begitu dekat dan tidak bisa dipisahkan dengan budaya turunan leluhur lewotana tersebut. Ritual yang diawali dengan ceremonial di rumah adat masing-masing suku yakni Suku Lein, Kabelen, Aran, Marandan Werang yang terletak di kampung induk tempat dimana masyarakatnya hidupdengan segala kesederhanaan dan meninggalkan segala bentuk perbedaan, yang membuat mereka begitu khas dimata para tamu yang sekedar lewat ataupun singgah diperkampungan tepian pantai ini. Betapa tidak, ritual adat Ahik Le’an Koke dijadikan ajang untuk menyatukan perbedaan tersebut, mulai dari menyatukan yang tua dan muda, menyatukan yang katolik dan islam dan menyatukan cerita sejarah tentang kampung indah ini.
Dan keindahan itu bertambah dalam prosesnya menuju ke kampung lamayang dalam bahasa sastra adatnya dinamakan lewo lamen lama dike, tana tukan wai lolon. Kampung yang diyakini masyarakat sesuai penuturan sejarahnya merupakan perpaduan atau penggabungan diantara 4 kampung filial dintaranya, Desa Apelame sebagai Lewo Tana Alat (pemilik kampung/tuan tanah), Kewukak, Lewoniron dan Lamaboleng yang kemudian dikenal dengan istilah wukak lewo pa niron tana lema.
“Dalam perjalanan menuju kampung lama, kami menyempatkan diri melakukan ritus bau lolon untuk obang (sorakan penyemangat saat mau perang) dan dilakukan sebanyak tiga kali di masing-masing titik yang telah ditentukan tersebut,” ungkap Bapak Muslimin Sanga Lein dan Bapak Matias Sina Kabelen, tokoh adat setempat. Menurut mereka, hal tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada Leluhur Lewotana yang masih melindungi kampung dan juga penghuninya selain mengulang apa yang pernah dilakukan nenek moyang mereka semasa dulu.

Sole Oha dan Hedung, Penegas Persatuan

Dan tarian hedung dan sole oha menjadi pembeda, pelepas kepenatan di siang yang tidak lagi teduh. Saat para pembesar suku mulai masuk ke rumah adat masing-masing, menunggu hantaran binatang dari masing-masing kampung filial (Kewukak, Lewoniron dan Lamaboleng), saat itu pula, masyarakat yang hadir memulai mengambil peralatan perang semacam parang dari kayu dan tameng tanda dimulainya tarian hedung. Gerak kaki yang khas dipelataran nama, dipadu dengan gerakan tangan seolah memukul lawan menandakan ciri masyarakat yang keras, namun punya daya juang walaupun di tanah yang gersang sekalipun. Demikianlah, hedung menjadi titik balik, dan penegas persatuan masyarakat adat desa setempat. Tidak ada dendam, yang hanya senyum kegembiraan yang terpancardari raut muka mereka, melangkah pasti memeriahkan ritual adat yang satu ini. Setelah lelah dengan tarian hedung yang menguras energi, mereka pun kembali ke area nama berdiri membentuk lingkaran,sembari tangan diletakkan dibahu mereka yang lain di sisi kiri kanan, pertanda tarian sole oha dimulai tanpa alunan musik tradisional dan hanya ditemani suara nyanyian oleh mereka ‘yang dipercayakan’ masyarakat adat menuturkan koda atau bahasa adat peninggalan nenek moyang. Indah, dan serasi tentunya, membuat pasang mata tidak lelah dan jenuh menyaksikan fenomena yang tidak lekang oleh waktu tersebut. Laki-laki dan perempuan melebur menjadi satu, dan debu ditengah nama pun turut menjadi saksi betapa peradaban zaman dulu begitu kental melekat dalam nadi orang-orang kampung itu, mengalir dan memaksa kaki untuk selalu bergerak,menunjukkan kepada mereka di negeri seberang yang penuh gemerlapan kekotaan bahwa inilah kami dengan kesederhanaan namun masih punya jiwa untuk bersatu walaupun kami berbeda.
“begitulah kami, tidak ada yang berbeda ketika kami sama-sama ada dalam tarian tadi,” tutur Matias Sina Kabelen, yang sedari tadi menemani para pengunjung walaupun dalam ritual ini ia memiliki peran yang amat penting sebagai anak suku kabelen.

Pemotongan Hewan Kurban, Puncak Ahik Le’an

Dan ketika hantaran hewan kurban selesai diantar ke rumah adat masing-masing suku, masyarakat atau ribu ratu diberi kesempatan untuk makan ataupun sekedar menyulut rokok sebatang bagi pria ataupun menguyah sirih pinang bagi kaum perempuan sembari menunggu ritual pemotongan hewan sebagai puncak ritual Ahik Le’a. Menariknya, pemotongan hewan dari masing-masing suku, harus diawali dengan pemotongan 2 hewan kurban masing-masing diatas bumbungan atap koke bale dan rumah adat kabelen, oleh beberapa orang yang dipercayakan ata kabelen raya. Sedang Ribu ratu menunggu di bawah halaman sekitar koke dengan beragam ekspresi, tegang, cemas pun mengiringi langkah kaki para pemuda kampung menaiki atap masing-masing sembari membopong hewan kurban. Namun berbeda dengan mereka para pelaku ritual pemotongan hewan diatas bumbungan, tidak ada keraguan sedikitpun yang terpancar dari wajah mereka terbukti sekali tebas, darah hewan kurban pun mengalir deras di atas atap dualangotersebut. Dan selanjutnya, ritual ini pun dilanjutkan dengan ritus Cahyo tuak atau te’bo tuak yang mana tuak yang disimpan di sebuah kumbang besar dituangkan di atas nama oleh para pembesar suku setelah sebelumnya menyanyikan lagu dalam bahasa adat setempat.Nama yang sedari ramai manusia, perlahan-lahan dijauhi oleh kaki anak negeri, pertanda ritus selanjutnya siap dilaksanakan dan ritus tersebut adalah pemotongan semua hewan kurban ataueba wolayang telah dibawa masuk oleh setiap utusan suku yang ada. Gembira, kagum, diselilingi gelak tawa mengiringi pemotongan hewan tersebut sementara penabu gong gendang tanpa henti-hentinyamenabuh dua alat musik khas lamholot tersebut menyemangati para pemotong hewan.“Ketika selesai dipotong kepalanya harus dibawah pulang ke suku masing-masing (kla’e) setelah itu rahang dari hewan itu dibersihkan kemudian digantung di pelataran koke atau istilahnya ahik koke atau hari raya koke,” ungkap Muslimin Sanga Lein.Sementara daging hewan-hewan tersebut yang telah dikumpulkan di rumah suku akan dibagikan kepada semua yang hadir sesuai dengan hitungan anak laki-laki dalam suku, tanpa lupa mereka-mereka yang sedang berada diluar daerah. Dan tentunya inilah hal yang membuat mereka terlihat begitu dekat satu dengan yang lainnya, walaupun tidak harus dengan bertatapan muka karena bagi mereka ikatan persaudaraan itu hanya dilihat dalam aliran darah, darah yang mencintai lewo lamen lama dike, tana tukan wai lolon.

Kampung Lama, Kental Akan Sejarah Budaya

Kekhasan peninggalan sejarah nenek moyang dan leluhur begitu kental terlihat bukan saja pada beberapa ritual yang telah disebutkan tadi sebagai bagian dari rangkaian Ahik Le’an Koke tetapi juga diperkuat dengan bentuk rumah adat yang masih terlihat kuno, natural dan namun kaya makna tersebut. Beratapkan ilalang, dengan dinding dari keneka dan bertiangkan bambu membuatnya begitu dicintai apalagi dengan beragam aksesoris mewakili masing-masing suku yang berdiam di daerah tersebut, tentunya membuat para pengunjungnya terpikat. Apalagi pengunjung akan kembali disuguhkan dengan deretan batu-batu ceper khas daerah tersebut yang disusun sedemikian rapinya sehingga wilayah kampung lama semakin indah. Dan Lima rumah yang berderet tersebut mengelilingikokedi tengahnya adalah perwujudan nyata kekuatan lewo tersebut dan tentunya mewakili lima suku yang mendiami kampung tersebut diantaranya suku Lein, Kabelen, Aran, Maran dan Werang. Dan kelima suku tersebut, kata para informan, memiliki gandengannya masing-masing seperti terlihat pada suku Lein yang punya gandengan dengannama, suku Lewo Aran dengan kopong raja mau u’e merik(batu dengan penyanggah dibawahnya), suku Kabelen dengan Koke ini, suku Ata Maran atau suku ura wai dipercayakan sebagai suku yang mendatangkan hujan saat masyrakat membutuhkannya, sedangkan suku Werang dan Lewo Aran, menjadi penghuni yang berasal dari gunung.

*Penulis adalah Koordinator Komunitas Wisata Menulis (KWM) Flotim-082359259635

Friday, February 24, 2017

Perginya Sang Lentera Dari Timur

(Puisi Mengenang Gerson Poyk)

Tak banyak yang mengenalmu,
tidak juga buku ini.
Karyamu seolah hilang ditelan zaman,  menguap dalam dekapan sang waktu yang terus bergulir tanpa henti
hingga banyak orang menjadi lupa.
lupa siapa kamu, Gerson Poyk
Juga karyamu yang begitu menghentakkan jiwa
hingga raga ini harus diajak melalangbuana mengintari sisi lain pikiranmu dan menembus zona perbedaan.
Perbedaan itu yang membedakanmu dengan sastrawan lainnya,
menjadikanmu kebanggaaan bagi kami orang timur.
Cahaya lentera pun semakin benderang mewakili ketimuran kami
hingga..
ragamu menua dan maut menjemputmu.
Iya.. Zamanmu boleh berlalu cepat
namun tidak tuk karyamu,
tidak juga katamu yang menjadi kalimat yang akan selalu abadi selamanya.
Selamat jalan sang pujangga dan lentera dari timur, tenanglah di Rumah sang khalik dan biarkan karyamu menjadi teman bagi kami tuk mengenalmu lebih dekat.

Wtb 24/2

Saturday, December 31, 2016

Selamat tinggal 2016


(Refleksi akhir tahun)

2016 dengan banyak cerita telah kulalui dengan baik. Suka dan duka, tawa dan tangis mengiringi langkah pijak diriku di dunia mencerna semua problematika hidup dengan semua yang kumiliki walaupun mimpi tinggiku tuk menggapai apa yang amat kurindukan urung dilaksanakan tapi ku masih percaya bahwasanya hidupku adalah garis tangan sang khalik dan tidak bisa kubuat menjadi sulit saat semuanya sudah digariskan kepadaku. Aku hanya bisa menjalaninya saja, dengan sedikit dorongan dan semangat yang lebih baik dari hari, bulan dan tahun yang sebelumnya. Iya semangatlah yang mampukan aku tetap ada di antara sekian pencapaian ini, mengubah yang sulit menjadi mudah, membungkam mulut dan kerlingan mata tanda sinis para manusia yang seakan belum puas dengan yang dimilikinya dan menganggap dirinya paling suci di jagat raya ini. Argh...itulah hidup tak baik jika semuanya baik adanya  perlulah adanya yang kurang baik sebagai motivasi tak akan kuambil pusing, dan tak mau kudengar ocehan mereka karena bagiku hidup tak perlu sempurna, baik pun sudah cukup toh aku hidup bukan untuk menyenangkan mereka tapi mau belajar menjadi manusia yang sesungguhnya, belajar dari mereka yang kuyakini mampu mengubah tatanan hidup menjadi lebih baik. Ini prinsip dan bukan sok suci, ini refleksi akhirku tuk menyambut akhir tahun yang telah kujalani dengan susah payah hingga bertahan di detik ini walaupun kutahu pasti tanpa kuberkatapun kaki dan tanganku ini masih terus melangkah menyusuri lorong gelap kehidupan yang belum kutahu kapan ujungnya. Hati dan pikiranku semua yang kumiliki telah kupatrikan pada Dia dan biarkan Dia yang kuyakini menuntunku melangkah sampai kutemukan siapa aku di dunia. Dan kuakhiri semua tulisan ini dengan sebuah kalimat sederhana sebagai kata penyambut tahun baru "Aku Tetap Disini, Dan Akan Terus Disini, Tanpa Harus Kuberlari Jauh Meninggalkan Yang Telah Disiapkan Bagiku. Aku Masih Bisa dan Akan Selalu Bisa Karena Tuhan Mencintaiku Dalam Diam-Nya,"

Wtbl 31 desember 2016

Wednesday, November 30, 2016

Inspirasiku

Inspirasiku

Malam memang akan pergi,
berganti dengan terangnya mentari,
memangkas hati dalam duka,
Menyayat sembilu dalam diam.
Lalu,
semua berubah dalam sekejap,
Sang inspirasi hadir diantara duka itu,
memberi warna baru, nan berbeda
menghardik kacaunya batin dengan jiwa kuatnya
memberi semangat dalam patahnya harapanku
Dan dia sang inspirasiku, hadir saat jiwa dan tubuh butuh sandaran, butuh penopang yg patah.
Dan dia inspirasiku...

Wtbl-3011

Tuesday, November 29, 2016

Karena Kamu

Karena Kamu

Karena kamu,
kutemukan artinya cinta.
Karena kamu,
cinta itu lebih bermakna, 
dan karena kamu
cinta itu menjadi lebih sakit dari yang seharusnya.
Karena kamu, buatku percaya
percaya, cinta tidak selama manis seperti yang dipikirkan, 
menyeret pada sebuah keniscayaan yang sia-sia.
Berjuang pada hal penting namun luput pada hati.
Karena kamu, harapan kembali terus kujaga hingga saat ini tuk perbaiki yang salah, dan mengembalikan cinta yang pergi.
Semua karena Kamu.

Wtbl-3011

Sunday, January 10, 2016

Panti Asuhan Acamister Duli Anan, Dilupakan Tetapi Masih Berjuang Untuk Kaum Difabel

Panti Asuhan Acamister Duli Anan terletak di Desa Watowiti-Kecamatan Ilemandiri, kurang lebih 5 km dari arah timur kota Larantuka. Di panti inilah hidup 32 anak difabel total ganda berat dibawah asuhan Arnoldo Dominiko Duli Uran bersama istri, meniti hidup, berjuang dengan senyum, mencoba membalikkan stigma dilupakan tetapi tidak melupakan. Iya, mereka yang terlahir dari rahim yang berbeda dibekali Tuhan dengan keterbatasan fisik dan mental, hidup dengan latar belakang daerah yang tak sama seperti Flotim, Adonara, Lembata, Sikka, Ende dan Ngada tetapi masih terus berjuang bersama ditengah himpitan ekonomi yang tidak lagi memungkinkan, namun mampu memberikan pembelajaran bagi banyak orang bahwa hidup memang patut untuk disyukuri. Lahir Dari Keprihatinan, Memukul Stigma Negatif Masyarakat Pengelola Panti Asuhan Acamister Duli Anan, Arnoldo Dominiko Duli belum lama ini mengatakan.
, keprihatinan kepada anak-anak difabellah yang mendorongnya membangun panti Acamister Duli Onan tersebut pada medio 2012 silam, disamping pengalaman hidup sang mantan biarawan ini akan kematian 3 saudaranya yang juga menderita difabel. “Kepedulian saya lahir dari dulu, untuk hidup dengan orang-orang ataupun anak yang menyandang masalah sosial seperti ini sejak saya masih di biara, bekerja di kantor Wali Gereja-Maumere setelah keluar dari Biara, maupun saat menjadi Anggota DPRD Kab. Sikka. Dari waktu ke waktu, saya merefleksikan, sebenarnya bukan hal baru bagi saya, karena dalam keluarga saya sendiri ada tiga saudara dari sembilan saudara/i saya juga menderita divabel berat dan pada akhirnya meninggal,” kisahnya pilu. Pengalaman tersebut bukanlah satu-satunya pendorong bagi pria asal Lewoawang-Kecamatan Ilebura untuk kemudian mendirikan Panti Acamister, pengalaman sosial masyarakatpun tuturnya amat mempengaruhinya dirinya untuk berani mendirikan sebuah rumah sederhana bagi kaum difabel tersebut,sebagai bentuk protes, dan kemarahan bagi mereka yang menyepelehkan anak-anak yang cacat mental dan fisik. 
“Panti ini adalah bentuk protes, marah saya terhadap orang-orang yang menolak anak divabel, yang dulunya beranggapan cacat itu memalukan, menghina keluarga, kotor, menghambat, dan memalukan. Dan lebih menyakitkan pada tahun 2005 itu, saya melakukan kunjungan pribadi ke Flores Timur di beberapa panti, dan menemukan kenyataan pahit bahwa kebanyakan panti disini (Flotim) hanya bisa menerima anak cacat yang bisa tolong diri, dan bukannya menerima anak cacat yag tidak bisa tolong diri,” kenangnya. “Bagi saya, panti ini adalah alternatif untuk menerima anak-anak yang tidak diurus dan tidak diterima orang lain,” kata Arnoldo lagi.

Menolong Tapi Enggan Meminta Ditolong    

Namun demikian, demi mewujudkan impian mulianya, banyak hal yang harus dikorbankan Arnoldo walaupun itu adalah sesuatu yang diraihnya dengan perjuangan, iya, kekayaan dan kedudukan sebagai mantan Anggota DPRD dilepasnya demi membantu mereka yang terpinggirkan, dilupakan bahkan dianggap sebagai penyakit masyarakat. Di tanah seluas 10x20 meter, di sudut kota Larantuka, ia bersama istrinya kemudian membangun beberapa gedung hunian sederhana yang disebutnya bagian barat, timur, dan atas, yang dananya berasal dari swadaya pribadi, bantuan perseorangan, lembaga bank, dan pemerintah serta DPRD namun mampu menampung 32 anak asuhnya, bersama para pengasuhnya yang senantiasa bekerja tanpa harus digaji, semuanya dengan kerelaan memberi dan peduli pada nasib anak-anak difabel. 
“Syukur karena bagian timur sudah bisa kita tinggal walaupun belum selesai tetapi sudah nyaman sedikit. Sedangkan di bagian barat harus dibangun sambung karena nanti bulan barat akan semakin parah, dan kami sedang merencanakan pembangunan lanjutan karena ruangan di bagian atas itu tidak terlalu memungkinkan lagi,” katanya penuh harap.
 “Kebanyakan mereka (anak-anak) ada di gedung bagian atas yang ukurannya 5x9 meter, malah ada satu tempat tidur harus menampung 2-3 anak dengan tempat tidur baru 6 dan disesuaikan dengan ukuran bangunannya” katanya. Bangunan-bangunan tersebut, akunya memang belumlah layak namun, dirinya percaya dirinya masih punya seribu satu cara untuk menghidupinya walaupun kadang permohonan mereka sejauh ini enggan dijawab pemerintah, malah dirinya menyesal banyak yang kemudian mengambil keuntungan dengan kenyataan yang mereka miliki. 
“Kadang mereka beri bantuan 2 dos mie, suruh kami tanda tangan 5 dos, bawa beras 100 kg suruh kami tanda tangan 150 kg. Saya tidak mau, sampai sekarang. Dan ketika mereka panggil saya ke sana tuk pertemuan, saya menolaknya karena kondisi kami ini terang, jelas, semua tahu tetapi buat apa pertemuan terus tanpa ada kejelasan,” sesalnya. Untuk itu dirinya, tidak terlalu berharap banyak walaupun dirinya membutuhkan karena baginya memberi dengan tulus dan ikhlas adalah sebuah hal yang sudah seharusnya bukannya menjadikan kesulitan mereka sebagai sebuah “berkat” bagi orang lain.
 “Ini demi anak-anak ini, masa depan mereka masih panjang jangan membuat mereka putus asa, jangan buat senyum mereka sirna karena ulah kita. Mereka sama dengan kita, walaupun fisik dan mental mereka tidak sama. Dengan mereka, kerajaan Allah sungguh ada,” pesannya. 
“Kalau sebentar pulang, bawa pulang semua barang bawaan anda, hanya satu yang harus anda tinggalkan yakni hatimu. Pergi dan sampaikan kepada dunia bahwa disini sedang dibangun kerajaan surga serta pergi dan berdoalah kepada dunia supaya dunia tahu bahwa yang empunya kerajaan surga ini adalah mereka yang tidur-tidur itu,” pesannya lagi. 

DPRD Siap Dorong Perda Perlindungan Kaum Difabel  

Bak bersambut, harapan Arnoldo pun ditanggapi serius DPRD melalui Badan Legislasi Flotim yang juga melihat lemahnya perhatian pemerintah terhadap kaum difabel di Flotim, dengan membuat Perda tentang perlindungan kaum difabel di kabupaten Flotim dalam pembahasan dan ditetapkan DPRD dalam sidang berikutnya setelah sebelumnnya melakukan kajian ilmiah dari aspek yuridis, filosofis dan sosiologis. 
“Perda ini sebagai solusi fundamental terhadap maslah yang dialami kaum difabel selama ini. Perda ini mewajibkan Pemda untuk memperhatikan kaum difabel secara kontinue berupa bantuan dana dari APBD untuk kepentingan pangan, papan, sandang, pendidikan, kesehatan untuk masa depan mereka layaknya manusia normal lainnya,” kata ketua Badan Legislasi Agustinus Payong Boli, mewakili rekannya di badan Legislasi DPRD Flotim kepada beberapa waktu lalu di Balai Gelekat Flotim. Niatan ini tutur Agus, telah didukung dengan beberapa pihak NGO seperti Delsos Keuskupan Larantuka dan hasil diskusi bersama teman-teman di Grup Suara Flotim demi misi kemanusian dengan melihat kenyataan pahit yang dialami Panti Asuhan Acamister Duli Onan sebagai rujukan panti yang dapat memberi spirit kemanusian yang lahir karena kepedulian atas harkat dan martabat kaum difabel. 
“Ke depannya siapapun Bupatinya wajib hukumnya memperhtikan kebutuhan primer dan sekunder kaum difabel dengan dana APBD secara rutin tiap tahun untuk kaum difabel di panti asuhan maupun di rumah-rumah,” ucapnya tegas. Naskah: Engky Keban 




Larinya HRS, Bukti Kalau Dia Manusia

    Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan berita soal Habib Rizieq Shihab. Bukan soal pelanggaran protokol kesehatan saat tiba ...