Blogku adalah kumpulan tulisan kecilku yang kuambil dan kuramu menjadi sebuah lukisan hidup yang bergerak dari pengalaman harianku
Saturday, February 3, 2018
Hidup itu harus diperjuangkan
Tuesday, January 30, 2018
rindu 1
Sajak Pengantar Mimpi
Sunday, January 28, 2018
CATATAN HIDUP YANG DILUPAKAN
Salahku adalah membiarkan tangan ini melukiskan kisah di balik sisi hidup seorang yang mulai jengah dengan proses pembiaran akan makna dibalik realitas kehidupan yang terlipat oleh waktu. Dan Kutulis kisah ini saat aku tidak lagi bersama mereka yang senantiasa menjadi inspirasiku, tidak juga bersama kumpulan manusia yang senantiasa bercermin tentang ke-diri-an mereka yang tidak sempurna. Iya...hidup telah mengantar aku pada perbedaan ruang dan waktu, menyeretku pada pasungan keadaban hidup yang mulai berdiri menguasai sendi akhlakku dan menciptakan sebuah patron bahwa hidup adalah cerminan kegagalanku untuk menguasainya kembali. Bagi kebanyakan mereka, aku hanya binatang jalanan yang mulai belajar untuk memaknai hidup dengan cara pandangku tanpa harus beriktiar untuk menganggap perbedaan sebagai sebuah keharusan untuk mencoba menjadi orang lain bagi mereka, aku tetap seperti yang dulu. Aku hanya tidak bisa membedakan sebuah cita-cita dan hayalan hingga aku terjerembab pada lubang keangkuhan walaupun keangkuhan ini tak lantas buatku melupakan siapa kalian, dan bagaimana kalian di mataku. Kalian tetap yang terbaik, aku hanya mau menjadi penting ketika orang yang kalian anggap penting mulai melupakan kalian. Aku memang binatang namun masih punya pikiran dan hati untuk melihat hidup ini sebagai sebuah proses belajar yang berbeda dengan pendidikan formal yang kujalani sejauh ini. Aku tetap seperti yang dulu dengan semua ceria yang kalian ajarkan, dengan tangis yang kalian berikan tuk bantuku berdiri sampai saat ini aku dapat menjadi manusia seutuhnya. Tanpa harus hidup dalam kepura-puraan yang semu, atau hanya sekedar menjadi penggembira ditengah kekalutan hidup ini karena hidup selalu punya makna keras diawal namun selalu lembut diakhit ceritanya sembari menunggu saat yang tepat untuk Tuhan mempertemukan kita kembali di titik yang sama walaupun di waktu yang berbeda.
wtb,28/1
Sunday, April 16, 2017
Sajak Buatmu Pemimpin
aku, dia dan mereka wakili harap kami.
Iya..kami adalah pemilik negeri ini yang kadang ditipu, yang punya 'Tuan' tapi tidak pernah dituankan, malah hanya dijadikan hamba kepentingan dan hasrat semu, dipreteli dengan janji tanpa merasakan janji itu sendiri.
Bukan untuk mengubah apa yang sudah terjadi, atau pun membenarkan saat mata melihat yang tidak benar, tetapi hanya untuk menegur kalau kalau kami yang empunya negeri ini.
Friday, April 7, 2017
AHIK LE’AN KOKE: RITUAL ADAT YANG MENYATUKAN
(Fransiskus X. Bala Keban)*
Letaknya di selatan pulau Solor, diapiti dua desa yakni Bubu Atagamu dan Watanhura I, diperhadapkan dengan luasnya pantai selatan dengan busa putih gelombangnya yang memecah bebatuan dipinggir pantai, semakin menyemarakkan keindahan negeri itu. Desa Watanhura 2 atau lebih dikenal dengan desa Apelame namanya, desa kecil yang ditempuh kuranglebih 45 menit dengan kendaraan roda dua dari pelabuhan podor-Solor menyimpan cerita khas anak lewotana yang percaya dan begitu menghormati budayanya, hingga mampu menjaganya disaat budaya lokal mulai kehilangan jati dirinya. Dan ritual adat Ahik Le’an Koke atau Hari Raya Koke menjadi penegas betapa manusia begitu dekat dan tidak bisa dipisahkan dengan budaya turunan leluhur lewotana tersebut. Ritual yang diawali dengan ceremonial di rumah adat masing-masing suku yakni Suku Lein, Kabelen, Aran, Marandan Werang yang terletak di kampung induk tempat dimana masyarakatnya hidupdengan segala kesederhanaan dan meninggalkan segala bentuk perbedaan, yang membuat mereka begitu khas dimata para tamu yang sekedar lewat ataupun singgah diperkampungan tepian pantai ini. Betapa tidak, ritual adat Ahik Le’an Koke dijadikan ajang untuk menyatukan perbedaan tersebut, mulai dari menyatukan yang tua dan muda, menyatukan yang katolik dan islam dan menyatukan cerita sejarah tentang kampung indah ini.
Dan keindahan itu bertambah dalam prosesnya menuju ke kampung lamayang dalam bahasa sastra adatnya dinamakan lewo lamen lama dike, tana tukan wai lolon. Kampung yang diyakini masyarakat sesuai penuturan sejarahnya merupakan perpaduan atau penggabungan diantara 4 kampung filial dintaranya, Desa Apelame sebagai Lewo Tana Alat (pemilik kampung/tuan tanah), Kewukak, Lewoniron dan Lamaboleng yang kemudian dikenal dengan istilah wukak lewo pa niron tana lema.
“Dalam perjalanan menuju kampung lama, kami menyempatkan diri melakukan ritus bau lolon untuk obang (sorakan penyemangat saat mau perang) dan dilakukan sebanyak tiga kali di masing-masing titik yang telah ditentukan tersebut,” ungkap Bapak Muslimin Sanga Lein dan Bapak Matias Sina Kabelen, tokoh adat setempat. Menurut mereka, hal tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada Leluhur Lewotana yang masih melindungi kampung dan juga penghuninya selain mengulang apa yang pernah dilakukan nenek moyang mereka semasa dulu.
Sole Oha dan Hedung, Penegas Persatuan
Dan tarian hedung dan sole oha menjadi pembeda, pelepas kepenatan di siang yang tidak lagi teduh. Saat para pembesar suku mulai masuk ke rumah adat masing-masing, menunggu hantaran binatang dari masing-masing kampung filial (Kewukak, Lewoniron dan Lamaboleng), saat itu pula, masyarakat yang hadir memulai mengambil peralatan perang semacam parang dari kayu dan tameng tanda dimulainya tarian hedung. Gerak kaki yang khas dipelataran nama, dipadu dengan gerakan tangan seolah memukul lawan menandakan ciri masyarakat yang keras, namun punya daya juang walaupun di tanah yang gersang sekalipun. Demikianlah, hedung menjadi titik balik, dan penegas persatuan masyarakat adat desa setempat. Tidak ada dendam, yang hanya senyum kegembiraan yang terpancardari raut muka mereka, melangkah pasti memeriahkan ritual adat yang satu ini. Setelah lelah dengan tarian hedung yang menguras energi, mereka pun kembali ke area nama berdiri membentuk lingkaran,sembari tangan diletakkan dibahu mereka yang lain di sisi kiri kanan, pertanda tarian sole oha dimulai tanpa alunan musik tradisional dan hanya ditemani suara nyanyian oleh mereka ‘yang dipercayakan’ masyarakat adat menuturkan koda atau bahasa adat peninggalan nenek moyang. Indah, dan serasi tentunya, membuat pasang mata tidak lelah dan jenuh menyaksikan fenomena yang tidak lekang oleh waktu tersebut. Laki-laki dan perempuan melebur menjadi satu, dan debu ditengah nama pun turut menjadi saksi betapa peradaban zaman dulu begitu kental melekat dalam nadi orang-orang kampung itu, mengalir dan memaksa kaki untuk selalu bergerak,menunjukkan kepada mereka di negeri seberang yang penuh gemerlapan kekotaan bahwa inilah kami dengan kesederhanaan namun masih punya jiwa untuk bersatu walaupun kami berbeda.
“begitulah kami, tidak ada yang berbeda ketika kami sama-sama ada dalam tarian tadi,” tutur Matias Sina Kabelen, yang sedari tadi menemani para pengunjung walaupun dalam ritual ini ia memiliki peran yang amat penting sebagai anak suku kabelen.
Pemotongan Hewan Kurban, Puncak Ahik Le’an
Dan ketika hantaran hewan kurban selesai diantar ke rumah adat masing-masing suku, masyarakat atau ribu ratu diberi kesempatan untuk makan ataupun sekedar menyulut rokok sebatang bagi pria ataupun menguyah sirih pinang bagi kaum perempuan sembari menunggu ritual pemotongan hewan sebagai puncak ritual Ahik Le’a. Menariknya, pemotongan hewan dari masing-masing suku, harus diawali dengan pemotongan 2 hewan kurban masing-masing diatas bumbungan atap koke bale dan rumah adat kabelen, oleh beberapa orang yang dipercayakan ata kabelen raya. Sedang Ribu ratu menunggu di bawah halaman sekitar koke dengan beragam ekspresi, tegang, cemas pun mengiringi langkah kaki para pemuda kampung menaiki atap masing-masing sembari membopong hewan kurban. Namun berbeda dengan mereka para pelaku ritual pemotongan hewan diatas bumbungan, tidak ada keraguan sedikitpun yang terpancar dari wajah mereka terbukti sekali tebas, darah hewan kurban pun mengalir deras di atas atap dualangotersebut. Dan selanjutnya, ritual ini pun dilanjutkan dengan ritus Cahyo tuak atau te’bo tuak yang mana tuak yang disimpan di sebuah kumbang besar dituangkan di atas nama oleh para pembesar suku setelah sebelumnya menyanyikan lagu dalam bahasa adat setempat.Nama yang sedari ramai manusia, perlahan-lahan dijauhi oleh kaki anak negeri, pertanda ritus selanjutnya siap dilaksanakan dan ritus tersebut adalah pemotongan semua hewan kurban ataueba wolayang telah dibawa masuk oleh setiap utusan suku yang ada. Gembira, kagum, diselilingi gelak tawa mengiringi pemotongan hewan tersebut sementara penabu gong gendang tanpa henti-hentinyamenabuh dua alat musik khas lamholot tersebut menyemangati para pemotong hewan.“Ketika selesai dipotong kepalanya harus dibawah pulang ke suku masing-masing (kla’e) setelah itu rahang dari hewan itu dibersihkan kemudian digantung di pelataran koke atau istilahnya ahik koke atau hari raya koke,” ungkap Muslimin Sanga Lein.Sementara daging hewan-hewan tersebut yang telah dikumpulkan di rumah suku akan dibagikan kepada semua yang hadir sesuai dengan hitungan anak laki-laki dalam suku, tanpa lupa mereka-mereka yang sedang berada diluar daerah. Dan tentunya inilah hal yang membuat mereka terlihat begitu dekat satu dengan yang lainnya, walaupun tidak harus dengan bertatapan muka karena bagi mereka ikatan persaudaraan itu hanya dilihat dalam aliran darah, darah yang mencintai lewo lamen lama dike, tana tukan wai lolon.
Kampung Lama, Kental Akan Sejarah Budaya
Kekhasan peninggalan sejarah nenek moyang dan leluhur begitu kental terlihat bukan saja pada beberapa ritual yang telah disebutkan tadi sebagai bagian dari rangkaian Ahik Le’an Koke tetapi juga diperkuat dengan bentuk rumah adat yang masih terlihat kuno, natural dan namun kaya makna tersebut. Beratapkan ilalang, dengan dinding dari keneka dan bertiangkan bambu membuatnya begitu dicintai apalagi dengan beragam aksesoris mewakili masing-masing suku yang berdiam di daerah tersebut, tentunya membuat para pengunjungnya terpikat. Apalagi pengunjung akan kembali disuguhkan dengan deretan batu-batu ceper khas daerah tersebut yang disusun sedemikian rapinya sehingga wilayah kampung lama semakin indah. Dan Lima rumah yang berderet tersebut mengelilingikokedi tengahnya adalah perwujudan nyata kekuatan lewo tersebut dan tentunya mewakili lima suku yang mendiami kampung tersebut diantaranya suku Lein, Kabelen, Aran, Maran dan Werang. Dan kelima suku tersebut, kata para informan, memiliki gandengannya masing-masing seperti terlihat pada suku Lein yang punya gandengan dengannama, suku Lewo Aran dengan kopong raja mau u’e merik(batu dengan penyanggah dibawahnya), suku Kabelen dengan Koke ini, suku Ata Maran atau suku ura wai dipercayakan sebagai suku yang mendatangkan hujan saat masyrakat membutuhkannya, sedangkan suku Werang dan Lewo Aran, menjadi penghuni yang berasal dari gunung.
*Penulis adalah Koordinator Komunitas Wisata Menulis (KWM) Flotim-082359259635
Friday, February 24, 2017
Perginya Sang Lentera Dari Timur
(Puisi Mengenang Gerson Poyk)
Tak banyak yang mengenalmu,
tidak juga buku ini.
Karyamu seolah hilang ditelan zaman, menguap dalam dekapan sang waktu yang terus bergulir tanpa henti
hingga banyak orang menjadi lupa.
lupa siapa kamu, Gerson Poyk
Juga karyamu yang begitu menghentakkan jiwa
hingga raga ini harus diajak melalangbuana mengintari sisi lain pikiranmu dan menembus zona perbedaan.
Perbedaan itu yang membedakanmu dengan sastrawan lainnya,
menjadikanmu kebanggaaan bagi kami orang timur.
Cahaya lentera pun semakin benderang mewakili ketimuran kami
hingga..
ragamu menua dan maut menjemputmu.
Iya.. Zamanmu boleh berlalu cepat
namun tidak tuk karyamu,
tidak juga katamu yang menjadi kalimat yang akan selalu abadi selamanya.
Selamat jalan sang pujangga dan lentera dari timur, tenanglah di Rumah sang khalik dan biarkan karyamu menjadi teman bagi kami tuk mengenalmu lebih dekat.
Wtb 24/2
Saturday, December 31, 2016
Selamat tinggal 2016
(Refleksi akhir tahun)
2016 dengan banyak cerita telah kulalui dengan baik. Suka dan duka, tawa dan tangis mengiringi langkah pijak diriku di dunia mencerna semua problematika hidup dengan semua yang kumiliki walaupun mimpi tinggiku tuk menggapai apa yang amat kurindukan urung dilaksanakan tapi ku masih percaya bahwasanya hidupku adalah garis tangan sang khalik dan tidak bisa kubuat menjadi sulit saat semuanya sudah digariskan kepadaku. Aku hanya bisa menjalaninya saja, dengan sedikit dorongan dan semangat yang lebih baik dari hari, bulan dan tahun yang sebelumnya. Iya semangatlah yang mampukan aku tetap ada di antara sekian pencapaian ini, mengubah yang sulit menjadi mudah, membungkam mulut dan kerlingan mata tanda sinis para manusia yang seakan belum puas dengan yang dimilikinya dan menganggap dirinya paling suci di jagat raya ini. Argh...itulah hidup tak baik jika semuanya baik adanya perlulah adanya yang kurang baik sebagai motivasi tak akan kuambil pusing, dan tak mau kudengar ocehan mereka karena bagiku hidup tak perlu sempurna, baik pun sudah cukup toh aku hidup bukan untuk menyenangkan mereka tapi mau belajar menjadi manusia yang sesungguhnya, belajar dari mereka yang kuyakini mampu mengubah tatanan hidup menjadi lebih baik. Ini prinsip dan bukan sok suci, ini refleksi akhirku tuk menyambut akhir tahun yang telah kujalani dengan susah payah hingga bertahan di detik ini walaupun kutahu pasti tanpa kuberkatapun kaki dan tanganku ini masih terus melangkah menyusuri lorong gelap kehidupan yang belum kutahu kapan ujungnya. Hati dan pikiranku semua yang kumiliki telah kupatrikan pada Dia dan biarkan Dia yang kuyakini menuntunku melangkah sampai kutemukan siapa aku di dunia. Dan kuakhiri semua tulisan ini dengan sebuah kalimat sederhana sebagai kata penyambut tahun baru "Aku Tetap Disini, Dan Akan Terus Disini, Tanpa Harus Kuberlari Jauh Meninggalkan Yang Telah Disiapkan Bagiku. Aku Masih Bisa dan Akan Selalu Bisa Karena Tuhan Mencintaiku Dalam Diam-Nya,"
Wtbl 31 desember 2016
Wednesday, November 30, 2016
Inspirasiku
Inspirasiku
Malam memang akan pergi,
berganti dengan terangnya mentari,
memangkas hati dalam duka,
Menyayat sembilu dalam diam.
Lalu,
semua berubah dalam sekejap,
Sang inspirasi hadir diantara duka itu,
memberi warna baru, nan berbeda
menghardik kacaunya batin dengan jiwa kuatnya
memberi semangat dalam patahnya harapanku
Dan dia sang inspirasiku, hadir saat jiwa dan tubuh butuh sandaran, butuh penopang yg patah.
Dan dia inspirasiku...
Wtbl-3011
Tuesday, November 29, 2016
Karena Kamu
Karena Kamu
Karena kamu,
kutemukan artinya cinta.
Karena kamu,
cinta itu lebih bermakna,
dan karena kamu
cinta itu menjadi lebih sakit dari yang seharusnya.
Karena kamu, buatku percaya
percaya, cinta tidak selama manis seperti yang dipikirkan,
menyeret pada sebuah keniscayaan yang sia-sia.
Berjuang pada hal penting namun luput pada hati.
Karena kamu, harapan kembali terus kujaga hingga saat ini tuk perbaiki yang salah, dan mengembalikan cinta yang pergi.
Semua karena Kamu.
Wtbl-3011
Larinya HRS, Bukti Kalau Dia Manusia
Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan berita soal Habib Rizieq Shihab. Bukan soal pelanggaran protokol kesehatan saat tiba ...


